November 13, 2008

Ya olloh mbak. Ampun deh.

Kemaren gw pulang dari Jakarta, trus mencari tempat duduk di primajasa, seperti biasa.

*tengok kanan, tengok kiri*

'Ah! Ada tempat duduk di sebelah mbak². Lumayan deh dari pada disebelah mas²'

Dengan semangat 45 gw duduk. Kemudian mengaduk² isi tas, berusaha mencari minuman favorit gw skrg pulpy orange. Stlh diaduk-aduk beberapa lama tu tas akhirnya ketemu terus gw minum. Terus gw melakukan kebiasan lainnya gw di prima jasa, yaituuu…


B E N G O N G.


Hehehe. Setelah gw berfikirr (baca: bengong) lama, akhirnya gw tertidur juga.

Hm….

Penting ya tidur diceritain? Belooom. Beloooooom. Hehehe.

Sekitar setengah perjalanan gw bangun, KM 70-an lah kira². Terus gw berfikir lagi, memikirkan what happened to my life. Memikirkan apa yang harus gw lakukan stlh ini, tiba-tiba


*towel²*.

Gw nengok. "Ya?"

"Kalo dari Jakarta ke cileunyi berapa ya?" Tanya si mba ber blackberry. *wao.*

"26 ribu" jawab gw sejawabnya aje. Gw kan paling males berbasa-basi-busuk di bus.

"oo.. naek ya?" kt si mbanya lgi.

"Iya" dapat dilihat dari jawaban gw, gw adalah orang yang sangat-sangat malas diajak berbasa-basi di bus.


Trus gw siap-siap mau tidur lagi, sebelumnya minum pulpy orange lagi dulu dooonk. Hehe *pentiiing abis*


*towel² lagi*

"Ya?" gw nengok sambil menenggak minuman jeruk berpulp itu.

"Mahasiswa?" Tanya si mba ber blackberry (penting ya blackberrynya disebutin mlu,sha?hehehe)

Felling gw gak enak. Kayanya si mba² ini pengen ngajak ngobrol.

"iya" jawab gw lagi-lagi seadanye.

Addduhhh kalo si mba ini orang normal mustinya sadar donk yaa gw gak mo diajak ngobrol

"Fakultas apa?"

Gw berfikir 'buset.ni mba² maksa amat. Ya udah deh ladenin aja.kasian'

"Kedokteran" jawab gw jumawa.hehe.

"Gigi atau Umum?"

Ini hal yang selalu gw sebel. Kalo gw bilang fakultas kedokteran ya umum lah yaaa. Kalo anak fkg ya bakal ngaku kedokteran gigi donk. Apa emang anak fkg suka menyingkat jadi kedokteran aja ya?

"Umum" lagi² tanpa basa-basi.

Gw ngeliatin mukanya si mba, kayany uda tua, Cuma kalo dia nanya² gw mahasiswa ato bukan mustinya dia mahasiswa kan?n karena g enak jdnya gw nanya k dia.

"Mba?"

"GWE fikom" dengan nada Jakarta yang sangat kentara.

Ooo. Pantes ngmg mlu, fakultasnya aja komunikasi. Ya harus berkomunikasi laaah.*padahal kesel*

Trus gw diem. Dieeeeem lama banget. Laaaaaamaaaaa ampe ampir ketiduran.


*towel²*

Haduuuh. Ni mbak bener² deh.

Gw nengok, dengan mencoba menampilkan muka APA-LAGI-SIIIH?

"pacarnya anak kedokteran juga?"

What theee? Ngapain coba dia nanya² pacarrrrr *topik sensitive*

"Gak punya. Baru putus"

"Saya juga nih" HEEE? SAPA YANG NANYAAAAA?

"Oo… anak fikom juga?" Tanya gw sekalilagi berbasa-basi. (bukan pengen nanggepin curhatannya dia)

"Enggak, dia anak ITB, tapi udah kerja, blablablablablabla"

Gw Cuma ngeliatin si mba² dengan muka 'aduuh. Ganggu'

Terus dia tiba² menitikkan air mata, dan menangis.

HADDDDDDDUUUUUUUUUUUUUUUUUHHHHH

Dan terus menangis. Menangis. Menangis.

Sampe akhirnya gw nanya

"Emang kapan putusnya?"

"FEBRUARI………………………"

Bagus. Gw aja putus 2 minggu yg lalu kaga gitu2 ama mbak.

Oh. Teganya.

Akhirnya kau pun pergi

Biarkan ku disini

Ternyata kau juga tak punya hati

Pedih hati tak terperi

Sedih hati ku telan sendiri

Mau marah tapinya sama siapa?

Kini aku disini

Cuma sendiri

Tiada yang mencari

Sampai hati

Sampai begini

Kau tak peduli

OH TEGANYA.

Apakah salah dan dosaku

Mengapa semua tinggalkanku

Mau marah tapinya sama siapa?


Tangga - Oh teganya.

Ketika cinta seperti sifat fisika

Ketika cinta seperti sifat fisika.

Ketika di awal,

dia seperti air,

terdapat dimana-mana,

beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya

dapat mencari celah diantara rongga²


kemudian

dia mengeras

membeku seperti es

menyejukkan hati yang panas

menyembuhkan mata bengkak ditinggal cinta lama

membekukan luka yang sebelumnya menganga


dia bertahan

sekeras es

sekokoh es


namun

tak ada yang tau

ketika dia perlahan mencair

meluncur lepas dari genggaman tak terasa


panas

membuat dia menjadi uap

hilang tanpa jejak

tak berbekas

tak bersisa

yang ku tau hanya ia telah tiada



(catatan mahasiswa putus cinta di malam buta setelah belajar tentang mikroba)

It’s over

Apa yang pernah kita janjikan terlupa

Apa yang pernah kita banggakan ke orang² ternyata terbuang percuma

Apa yang pernah kamu kata ternyata dusta

Apa yang pernah ku rasa telah sirna

Apa yang dulu kugenggam erat ternyata telah entah kemana

Apa yang dulu kutakutkan akhirnya di depan mata

Apa yang dulu tak pernah kau maui kau setujui saja

Apa yang dulu ada sekarang sudah tiada

Yang dulu in a relationship jadinya SINGLE juga!



(catatan mahasiswi patah hati yang ingin mencari pacar lagiiiii :p)

On way back…

Ketika perjalanan pulang ke jatinangor (tempat dimana kampus gw berada) setengah diri gw pasti tertinggal di Jakarta. Place I called home. Dan setengah diri gw yang tertinggal itu pasti mengutuki kenapa gw begitu bodoh sampe harus terbuang jauh dari rumah, dan sampai saat ini kadang masih suka menyesali kenapa gw gak sedikit lebih rajin biar bisa keterima di kampus itu.

Tapi setengah diri gw yang lain menyukai perjalanan ini. Karena sekitar 2-2.5 jam gw bisa mendapati diri gw sendirian, dengan pikiran2 gw, tanpa perduli orang lain. Karena jujur aja, hampir smua pikiran gw, keputusan gw dipengaruhi sama orang lain. Dipengaruhi sama pikiran-pikiran "Kalo gw gini… orang bakal mikir apa ya? Klo gw pilih ini, apa reaksi orang-orang ya?" dan buat mendapatkan waktu all by my self buat gw sangat-sangat-sangat berharga. Makanya dimasa-masa perjalanan balik ke jatinangor gw sangat jarang menyapa orang di sebelah atau menanggapi ucapan-ucapan orang di sebelah gw. Selain karena emang gw ga bisa basa-basi, gw sebel aja karena waktu yang jarang2 gw punya buat sendirian sering terambil buat ngeladenin basa-basi orang lain.

Pernah beberapa kali gw ngeliat cewek yang sambil ngelamun ke luar jendela sambil keliatan banget mencoba nahan nangis, dan buat ngeliat moment2 kaya gitu buat gw kenanya dalem
banget. Buat gw jadi sadar, everybody's got problem. Buat gw jadi mikir, di tengah-tengah gw yang sering menyesali apa yang terjadi di hidup gw, gw gak sendirian. Semua orang punya masalah, even mungkin orang yang selama ini gw liat sehari-harinya selalu ketawa-ketawa.

2-2.5 jam yang gw punya selama perjalanan dari jatinangor ke Jakarta selalu jadi 2.5 jam yang gw nantikan. Bukan, bukan jatinangornya, tapi pelajaran sederhana apa yang gw dapet dari perjalanan itu. Momen-momen apa yang bisa gw capture di otak gw yang bisa biking w mikir. Bisa membuat gw lebih bersyukur atas apa yang udah Dia kasih buat gw.

November 12, 2008

Untuk kalian para pecinta trend.

Ada yang lucu, udah setahun belakangan gw ngeliat profile² temen² masa remaja gw yang tiba-tiba berlomba-lomba memamerkan hasil karya fotografinya.

Betapa mereka memamerkan kefasihan mereka tntg gadget² fotografi terbaru, camera digital merek ini lah, lensa itulah, tekhnik fotografi ini lah, cara mengedit baru itulah. Banyak.

Kenapa lucu?

Karena orang² itulah yang waktu SMA gw masuk ke ekskul fotografi, memandang sebelah mata ekskul gw.

Karena orang² itulah yang udah diajak beribu-ribu kali buat ikut ekskul fotografi tapi dengan semangatnya menolak, karena waktu itu fotografi belom GAUL.

Karena orang² itulah yang diajakin hunting foto kemana-mana waktu jaman remaja, tapi gak pernah tertarik atau bahkan nanggepin.

Kenpa mereka bisa 180derajat berubah?

Karena fotografi waktu belom IN, sedangkan skrg memamerkan kecanggihan gadget fotografi, memamerkan jenis lensa apa yang kalian punya sedang IN.

See how trends can change something?

Ketika cinta seperti tanaman

Pertama

Tersebar benih

Tanpa pernah tersadar

Sang benih tumbuh

Tumbuh makin tumbuh

Tumbuh semakin liar

Semakin lama

Benih itu sudah cukup besar

Sehingga kau sadar

Ada benih yang tak kau sebar

Namun minta sesuatu yang tak bisa kau berikan

Ketika coba kau cabut

Sang benih bertahan

Dan ketika kau coba lari

Sang benih berubah menjadi benalu

Menghisap dirimu dari belakang tanpa malu


 


 

(catatan seorang mahasiswa kebanyakan waktu tanpa tau harus dimanfaatkan menjadi apa waktunya)