June 27, 2011

Partner. Pacar. Sahabat

Saya punya 3 term buat orang-orang terdekat dalam hidup saya.
Partner.
Pacar.
Sahabat.

Partner adalah orang dimana saya men’challenge’ pikiran saya, pendapat saya, way of thinking saya, perspektif saya terhadap sesuatu.
Partner adalah dengan siapa saya dapat berdiskusi murni dengan logika. Berdebat, belajar, dan menyimpulkan sesuatu. Singkatnya partner ini adalah ‘guru’ saya.
Kursusnya? Bisa mengenai hidup, agama, cara pikir, cerita cinta, apapun. Sejauh ini entah kenapa saya punya partner semuanya laki-laki. Mungkin karena fungsi partner buat saya adalah seseorang untuk memuntahkan fakta ke depan muka. Sesakit, sekasar, seberat apapun faktanya.
Intensitas bertemu minimal, tapi saat kita ketemu mostly saya dapet sesuatu dari pertemuannya.

Pacar buat saya, adalah orang yang intensitas berhubungannya paling tinggi, otomatis paling tau cerita hidup sehari-hari saya. Pacar ini buat saya semacem diary. Tempat saya cerita, tempat saya berkeluh kesah, teman berbagi mimpi. Kadang berfungsi sebagai partner, meski kadang suka dipertanyakan keobjektifannya (krn sayanya suka ngambekan hehehe :p). Sama pacar ituuuubisa dibilang 50-50, 50 logika + 50 hati. jadinya kadang keputusan saya suka se objektif itu euy.
Kalo sama partner biasanya saya ditampar-tamparin dengan debat-debat, perbedaan pendapat, dan ‘kursus’nya, pacar itu buat saya tempat bersandar dalam lelahnya dunia *saelah bahasanya :p* Biasanya the most supportive people in my life. Karena mostly tentang masalah-masalah, cerita sehari-hari saya yang tau ya dia.
Pacar ini… cuma satu dan laki-laki *yaiyalah*

Sahabat. Nah, kalo ini beda lagi. Sahabat buat saya itu adalah motivator handal, tempat curhat yang hebat. Mereka adalah orang-orang yang selalu ngedukung saya, bahkan mungkin ketika saya dalam posisi yang harusnya ga didukung. Saya bisa cerita sejuta hal sama mereka, mungkin karena intensitas hubungan kami biasanya paling minim. Tapi kalo sama sahabat 100% loyalti saya buat mereka. Hubungan timbal balik yang sempurna. Saya ada buat mereka ketika mereka butuh, mereka ada buat saya ketika saya butuh. Mostly sih semua sahabat saya yaaa orang-orang yang udah lama lalu lalang dihidup saya. Yang kenal saya se-kenal-kenalnya. Yang gak pernah kehabisan topik cerita sama mereka. Sama mereka, saya 80-20, 80-perasaan, 20-logika. Makanya kadang pendapat saya buat mereka suka ga objektif. Anything that makes them happy :)
Sahabat saya… mostly cewe dengan 1-2 cowo.

So, if you have that one person in your life, yang bisa berlaku sebagai partner + pacar + sahabat, embrace them, love them, treat them well, karena gak semua orang bisa seberuntung Anda ;)

Buat yang gak punya, anggap saja ternyata Allah sesayang itu sama kalian, ngasih kalian banyak orang dengan peranan yang beda-beda. Dengan tujuan yang beda-beda. Dan pada akhirnya, kalo kalian kehilangan salah satunya, masih ada 2 yang tersisa. :)

Jangan pernah berhenti bersyukur!
….Maka nikmat Allah mana lagi yang kamu dustakan?

May 27, 2011

Adaptability.

Perubahan itu sebuah kepastian. Baik tiba-tiba, ataupun perlahan. Terpaksa ataupun memang ingin mencoba.

Seorang teman pernah berkata ketika kami berdiskusi tentang kemungkinan adanya Pintu Kemana Saja di masa depan, teman saya ini bilang “Gak mungkin ditemukan Pintu Kemana Saja dalam waktu dekat, industri sepeda, motor, mobil, kapal, kereta, pesawat bakal hancur. Yang namanya penemuan revolusioner itu gak mungkin jadi dalam waktu singkat. Perubahan itu pasti bertahap”.

Ini mengingatkan saya pada perubahan yang (disadari atau tidak) terjadi pada kehidupan kita sehari-hari, terlebih pada diri saya (ya iyalah, saya kan pasti lebih nyadar perubahan pada diri saya) ;p

5 tahun yang lalu, kalo saya disuruh tidur di kamar sendirian tiap malam, belum tentu saya mau.

4 tahun yang lalu, kalo saya diharuskan datang jam 11 malam untuk mengotopsi jenazah baru, pasti saya ketakutan.

3 tahun yang lalu, kalo saya punya pacar yang sehari-harinya ditengah laut tanpa sinyal, sulit dihubungi dan sulit komunikasi, belum tentu hubungan kita baik-baik aja.

2 tahun yang lalu, kalo saya disuruh milih 1 orang untuk cerita seluruh masalah hidup saya, kayanya gak akan kepikiran siapapun.

1 tahun yang lalu, ide bahwa saya bisa bertahan setelah kejadian gak enak selama satu tahun ke belakang, pelan-pelan membuat pertahanan pribadi tanpa perlu orang lain tampak sangat gak mungkin.

Pada akhirnya, seluruh hal baik ataupun buruk yang terjadi pada kita, adalah sebuah proses adaptasi, proses perubahan diri kita menjadi pribadi sebaik-baiknya. Pribadi yang akan cocok dan sesuai dengan keadaan kita di masa depan.

Kita yang mungkin tadinya manja, sengaja Allah didik dalam masa perkembangannya menjadi pribadi yang lebih sesuai dengan keadaan kita di masa depan nanti, entah itu mungkin menjadi lebih mandiri karena pada masa depan kita harus hidup sendiri, atau mungkin malah bertambah manja, karena ternyata masa depan kita menuntut menjadi lebih manja.
Kita yang tadinya sangat cuek, sengaja Allah pertemukan dengan orang yang sedikit demi sedikit membangun rasa perhatian kita.
Mereka yang tadinya sangat serius, sengaja Allah pertemukan dengan orang yang lebih luwes dan easy going, agar kita menjadi lebih relaks dalam menikmati hidup.

Baik atau burukkah perubahan yang kita alami selama masa perjalanan ini, sesungguhnya mungkin sulit untuk kita nilai, relatif.
Tapi yakinlah bahwa perubahan yang kita alami ini, hanyalah sebuah jalan untuk menjadi pribadi yang lebih sesuai dengan keadaan kita di masa depan nanti

May 23, 2011

Kualat!

Minggu lalu, temen SMA gue, Meta dan Dhika nikah.

Yang lucunya adalah ketika gue salaman sama Dhika di Pelaminan, dia ngomong gini ke gue:
Makasih ya Sha, udah nyumpahin Meta bakal Cinlok sama gue. Kalo gak, gue gak ada disini kali sekarang

Dan ini mengingatkan gue sekitar 6 tahun yang lalu. Yap. Kalo inget-inget jaman SMA dulu, waktu si Meta masih gondok-gondoknya sekelompok TO sama Dhika, gue-yang waktu itu dengan ngasalnya- nyumpahin Meta bakalan cinlok sama Dhika. Dan masih keinget mukanya Meta -yang mungkin ngasal juga- bilang amit-amit.

Lucu ya?

Gimana suatu hari, kita sebel-kesel-bilang amit-amit tentang seseorang,
dan gimana di hari lain, kita gak bisa ngebayangin hidup tanpa orang itu, and ended up, getting married :)

Gue pribadi gak pernah sih punya pengalaman suka-sayang-atau even jatuh cinta sama orang yang gue sebelin sebelumnya.
Tapi bukannya gak pernah blg ‘amit-amit’ atau disumpahin sama temen gue juga.

Pada akhirnya, kesal, benci, cinta, hanya sebuah rasa yang begitu mudah bercampur dan
memberikan sensasi yang berbeda.

Lucu ya. Gimana Semesta berkonspirasi demi sebuah pasangan bertemu, dan berbahagia.

Can’t wait to meet mine! :)


August 6, 2010

Berkelompok

Somehow kepikiran pas koas nanti gak mau ‘berkelompok’.
Terlalu banyak orang hebat diluar yang belum saya kenal.
Yang saya yakin saya bisa berkembang banyak dengan mereka tanpa perlu peng-kotak-kotak-an pertemanan.

July 31, 2010

Monita - Ingatlah

Kita pernah ada
Di suatu masa bersama
Walau kini tak sama
Jangan lupakan indahnya

Ingat dan teruslah kau kenang-kenang semua
Kata-kata tak perlu kau ucapkan juga
Asalkan terus kau simpan dalam sudut jiwa
Ku kan dapat merasakannya

Masih selalu ada
Cerita lama dan tawa
Masih tersimpan juga
Sedih saat kau tak ada

Kupercaya
Perjalanan kita
Semestinya
Membawa bahagia