April 22, 2018

My journey to finally meet him.

Di suatu pagi di Cirebon, saya ingat betul saat itu pagi karena saat itu masih jadi rutinitas harian saya untuk membuka timeline twitter setiap paginya, saya menemukan satu retweet yang menarik. Sebuah tweet yang diretweet, lucunya oleh mantan pacar saya. Tweet sederhana, yang saya yakin si empunya juga tidak bermaksud apa-apa selain menghargai nasihat ayahnya. Tapi entah kenapa tweet itu menyetop scroll timeline saya. Iseng saya klik profile twitternya. @frahmadani namanya. Secara otomatis saya scroll tweet-tweetnya yang lain. Tweetnya biasa. Tidak pretensius, tidak judging, tidak juga modus. Saya entah kenapa cukup yakin orang ini mentweet murni pikirannya, tanpa bermaksud apa-apa. Saya klik profile picturenya, dia tampak seperti laki-laki biasa, tapi entah kenapa saya begitu suka caranya berbahasa. Lalu rutinitas harian pun terpaksa membubarkan saya dari kepoan twitter pagi itu.

Tapi entah mengapa ada yang begitu mengena dari tulisannya. Sungguh, hingga saat ini pun saya tidak tahu apa, tapi yang muncul dari pikiran saya adalah saya ingin mengenal dia. Saya ingin mengetahui pikirannya. Saya ingin tau orang ini.

Saat itu, saya masih cukup intens berkomunikasi dengan mantan yang meretweet tulisannya. Malam harinya, tanpa pikir panjang saya bilang keinginan saya mengenal orang ini ke si mantan. Saya lupa tepatnya apa yang saya bilang, saya hanya merasa keinginan ini harus disampaikan, entah kenapa. Ini kali pertama saya minta dikenalkan ke orang sejujurnya. Apalagi saya hanya baca tulisannya. Tapi entah kenapa saya begitu nekat. Semesta mungkin sedang membisikkan takdir saya? Entahlah. Saat itu tak terpikir lebih jauh dari ‘saya mau kenal dan ngobrol sama orang ini’.
Hari terlewat, obrolan mengenai ingin mengenal sesosok orang dibalik akun @frahmadani ini pun terlewat saja, hingga akhirnya teman saya ini bilang bahwa si akun @frahmadani rupanya tak keberatan jika berkenalan dengan saya.

Saya ingat betul saat itu malam hari, saya ingat betul saya sedang berdiri di kamar di rumah kontrakan saya di Cirebon. Saya ingat betul bagaimana pertama kalinya akhirnya saya berkomunikasi dengan dia.
Obrolan kami berlangsung lancar, menyenangkan, tidak pretensius. Dan ada satu kalimat yang saya ingat dia tanyakan ke saya: Ceritain dong film, tv series, dan novel kesukaan lo. Karena dari situ kita bisa mengenal orang.
Mungkin terdengar biasa saja buat anda, tapi buat saya waktu itu, pertanyaan sederhana itu entah kenapa begitu mengena. Diantara sekian orang yang pertanyaannya selalu terbaca: Lo dokter ya? Lo orang sunda? Lo orang padang? Lo anak unpad? Entah kenapa pertanyaan sederhana mengenai apa yang saya suka, dan bukan apa latar belakang saya begitu mengena.

And I knew right then, that this man will have a big impact to my life. 

September 26, 2013

Stop (?)

Know When To Stop.
It’s easy to say. But it’s very hard to do.
Tulisan ini terinspirasi setelah saya menemani seorang teman yang sedang rutin berobat dengan seorang dokter kulit yang cukup terkenal pada daerahnya.

Teman saya ini, tipikal perempuan yang sangat care dengan penampilannya. Rapi dan dandannya tertata dengan baik. Suatu saat, di wajahnya mulai muncul jerawat-jerawat kecil, out of nowhere. Ternyata hal ini sangat jd concern buat dirinya, hingga dia memutuskan untuk memulai perawatan dengan dokter kulit kelamin yang terkenal pada daerah kami.

Sebagai penonton, saya memperhatikan step step yang ia jalani demi
mencapai kulit sempurnanya. Ratusan ribu telah keluar, banyak perawatan telah ia lewati. Pergantian sabun, sunblock, day cream, night cream, scrub, masker, peeling, microdermabrasi, facial, telah semuanya ia lewati. Hasilnyapun tampak, menurut saya. Jerawat-jerawat mini yang tadinya memenuhi wajahnya hilang, kulitnyapun tampak lebih cerah. Singkat kata, menurut saya kulitnya sudah flawless.

Hari itu saya menemaninya untuk menjalani langkah perawatan (yang entah keberapa), tepat sebelum bertemu dengan sang dokter kulit, di mobil, saya berkata “Kulit lo sekarang udah bagus banget, tinggal ngejaganya aja ini mah”. Iapun setuju dengan pendapat saya.
Setelah menunggu sekitar 30 menit hasil berkonsultasi dengan sang dokter, teman saya inipun menemui saya di mobil dengan muka sedikit ditekuk. “Loh, kenapa?” Tanya saya. “Makin mahal perawatan gue” jelasnya.
Saya jelas kaget. Bagaimana bisa seorang dengan kulit yang terawat, dan terhitung sangat bagus malah menjalani perawatan yang lebih mahal.
“Lah, kok bisa?” Tanya saya.
“Iya, katanya skrg pori-pori gue harus dikecilin, kantung mat ague juga kan keliatan” jawab dia.
“Lah, bukannya dari dulu emang udah begitu?”
“Iya sih, tapi kata dokternya kalo mau bagus, ya begitu..” jelas teman saya.
Lalu saya menanyakan satu hal ini: “Lo Tanya dokternya gak, treatment lo akan berhenti sampe apa?”
Teman saya bertanya balik, “Maksudnya?”
Saya bilang “Iya, kan kalo berobat demam berdarah, indikasi pulang lo kalo trombosit udah lebih dari 80.000 dari bebas syok 3 hari tuh, kalo TB berhenti berobat kalo BTA udah (-) paska pengobatan, bahkan kusta aja ada release from treatmentnya. Kalo lo, kapan berhentinya?”
Teman sayapun terdiam, dan mengangkat bahu. “Bakal ada terus sih yang dikomplain ya”

***
Saya jadi tersentil.
Isn’t that how we live in society?
Tuntutan-tuntutan tanpa henti. Entah yang berujung pada apa.
Saat SMA, tuntutannnya diterima di fakultas/universitas sebaik mungkin.
Saat kuliah, tuntutannya mendapat IP setinggi mungkin.
Saat lulus, tuntutannya bekerja di tempat dengan gaji sebagus mungkin.
Saat gaji bagus, tuntutannya kapan menikah dengan orang yang se-oke mungkin.
Saat menikah, tuntutannya kapan memiliki anak selucu mungkin?
Saat punya anak, tuntutannya kapan menambah adik (sebanyak mungkin) ?
Dan ketika anak sudah dewasa, tuntutannya kapan mendapat menantu se-oke mungkin.
Lingkaran tuntutan tanpa akhir.
Lalu pertanyaan saya,

Kapan lingkaran tuntutan ini berakhir?
Kapan kita dinyatakan ‘Release from Assertion’?

Lalu saya berfikir dan berfikir.
Dari dua topic (yang entah bersinggungan atau tidak diatas. Atau ini hanya semacam loncatan ide dalam kebiasaan asosiasi longgar saya) itu, kuncinya satu: know when to stop.
Tau kapan berhenti dari tuntutannya tak berujung.
Untuk menjadi cantik, untuk mendapat universitas terbaik, untuk mendapat IP tertinggi, untuk mendapat gaji terbagus, untuk menikah tercepat, untuk punya anak (terbanyak?)
Untuk menjadi yang paling-paling-paling dari semua.
Dan mulai mencoba hidup tanpa judgment.
Tanpa tuntutan.
Tanpa kebutuhan atas pengakuan orang lain.
Tanpa pretensi apa-apa.

Saya membaca tentang kebiasaan hidup orang-orang di Swiss di buku The Geography of Bliss, dan somehow saya sangat ingin menerapkan pola hidup orang Swiss pada keturunan saya kelak.
Di Swiss, katanya, berbuat sombong merupakan sesuatu yang memalukan.
Bicara tentang uang adalah hal yang tabu.
Bahkan untuk member tahu/mengkritik orang lain pun menjadi hal yang tabu. Karenanya orang swiss tampak menjadi manusia yang cuek dengan keberadaan orang lain. Karena bagi mereka, member tahu/mengkritik orang lain menunjukkan bahwa orang itu merasa lebih dari orang lain.
Dan merasa lebih dari orang lain bagi mereka adalah yang tabu.

Isn’t that nice?

June 11, 2013

The Devils Inside Us

Pernah dengar kata-kata “Setan itu ada dalam diri kita sendiri?”

Sepanjang saya TK, SD, TPA, hingga kuliah, saya di doktrin oleh kepercayaan bahwa ada dua jenis setan. Setan berwujud iblis, dan setan dalam diri kita sendiri yang membawa kita ke arah keburukan. Dan saya rasa bukan cuma saya aja yang tunduk dengan doktrin ini.
Doktrin dimana jika saat ramadhan setan dikunci di neraka, lalu mengapa kejahatan masih berlangsung? Gak satu-dua ustadz yang bilang bahwa kejahatan itu didorong oleh setan dalam diri kita sendiri.

Posting saya kali ini mempertanyakan doktrin ini dengan pengetahuan medis-psikologis yang baru saya baca kemarin.

—-

Sejak (akhirnya) mengetahui cara dan serunya menggunakan servis Quora, akhir-akhir ini saya lebih sering mengeksplor Quora dan meninggalkan StumbleUpon, yang tadinya merupakan aplikasi android paling aktif di handphone saya. Kemarin ini, saya tidak sengaja menemukan pertanyaan dan jawaban yang menarik perhatian saya, pertanyaannya begini “How do I get over my bad habit of procrastinating?”

Sebagai sesama procrastinator, saya merasa memiliki panggilan batin untuk mengintip jawaban dari orang-orang, dan saya tersentil dan tertarik dengan jawaban Oliver Emberton.

Jadi menurut Oliver, otak kita terdiri dari dua bagian inti. Oliver menyebut mereka adalah Albert (Semacam pun untuk Albert Einstein) dan Rex karena bagian otak ini punya sifat mirip sifat dasar reptil. Di dunia kedokteran, kita mengenal Albert sebagai higher cortical function alias fungsi luhur alias hampir seluruh area otak, yang kita kenal dengan brodman area. Higher cortical function ini punya bos besar yang bernama Prefrontal Cortex, semacam pusat relay informasi, simplenya ada si ‘pemikir’. Sedangkan Rex dalam dunia kedokteran kita kenal sbh Basal Ganglia, yg ternyata saya juga baru tahu, pusat motivasi pemenuhan kebutuhan dasar hidup, ya makan, ya tidur, dan nafsu.

Sadly, saat kita mau melakukan sesuatu, ternyata bukan Albert yang in charge, namun si Rex. Jadi ujungnya adalah apakah Rex mau melakukan sesuatu atau tidak. Jadi Albert ini semacam majikan, sedangkan Rex ini supirnya. Sayangnya juga, Rex ini punya kecenderungan untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan, yaitu memotivasi kita memenuhi kebutuhan dasar, ya makan, ya tidur, dan *ehem* melampiaskan nafsu itu.

Jadi, kalo si Albert mau bangun tidur dan membersihkan kamar mandi kemudian menulis blog, Rex ini maunya tidur-tiduran dan makan aja. (Which is currently going on in my situation right now, :P) Sekarang tinggal bagaimana kemampuan Albert mengendalikan Rex. Apakah Albert majikan yang cukup dominan untuk ‘menyuruh’ Rex menyetir badan dan bangun tidur.

“Yah, itu mah semua orang juga tau” mungkin itu yang kepikiran di otak ya?

Here’s the trick, karena Rex ini akan selalu memotivasi kita melakukan sesuatu yang ‘melenakan’ maka triknya adalah untuk memberi makan Rex terlebih dahulu, supaya posisi Albert lebih dominan dan bisa melakukan hal-hal produktif lainnya.

Kembali ke analogi supir dan majikan tadi, supir ini gak akan mau kerja benar sesuai arahan majikan kalo gak cukup tidur, kalo gak kenyang, dan gak digaji.

Jadi, sebelum melakukan sesuatu yang produktif, supaya kita gak berujung pada malas-malasan, akan lebih baik penuhi kebutuhan dasar tubuh terlebih dahulu, tidur cukup, makan cukup. Jadi, keinginan berleyeh-leyeh dan tidur-tiduran itu akan tersisih sendiri.

Sekali lagi, ini masih dalam teori tertulis, pada akhirnya kalian mau leyeh-leyeh sambil baca tulisan ini atau actually doing something you should do ya balik lagi ke si Albert :p

—-

Nah, tulisan saya kali ini berusaha menggabungkan antara doktrin ‘setan’ dalam tubuh, dan struktur anatomis dan fungsional yang memang benar nyata adanya.

Kalo mengintip sifat dasar basal ganglia alias Rex yang berfungsi memotivasi kita untuk memenuhi kebutuhan dasar, ya makan, ya tidur, dan *ehem* pelampiasan nafsu tadi tanpa adanya kontrol dari prefrontal cortex alias Albert, ya kita ini semacam binatang.

Dan kalo melihat dunia kejahatan saat ini, yang tadi kata Ustadz-ustadz itu, muncullnya karena ada ‘setan’ dalam tubuh, ya pencurian, ya perampokan ya perkosaan, pada intinya kan soal memenuhi kebutuhan dasar itu tadi. Bicara tentang fungsi Rex untuk memotivasi kita memenuhi kebutuhan dasar tubuh.

Sampai sini, kira-kira terbayangkah apa yang sejauh ini saya fikir?

Jujur, saya sangat cetek soal keagamaan, masih sangat luas dunia islam yang belum saya sentuh, tapi ketika saya belajar lebih jauh soal fungsi otak manusia, dan ternyata menyentuh area keislaman dimana selama ini saya tumbuh dengan doktrin-doktrin yang ada, saya jadi bertanya-tanya, apakah ‘setan’ dalam tubuh kita adalah insting binatang (yang muncul karena motivasi basal ganglia) yang tidak berhasil dikontrol oleh akal (prefrontal cortex)?

Is basal ganglia drives the devils inside us?

May 5, 2013

Suram (?)


Jadi beberapa minggu yang lalu seorang teman pernah berkomentar tentang gimana enggak enaknya tempat saya mendapatkan internship. Bahkan, gosipnya tempat internship saya ini lumayan dihindari oleh adik-adik kelas saya (yang entah kenapa segitu hebohnya pengen milih wahana :p)
Saya cuma bisa tersenyum.
Ngenes gak sih berada di RSUD Arjawinangun selama 8 bulan?
Bulan-bulan pertama saya jalani dengan mengutuk keseharian saya di sana.
Gimana enggak?
1. Dari perubahan suhu, 6 tahun tinggal di wilayah pegunungan, dengan suhu rata-rata 24 derajat celcius, saya harus beradaptasi dengan suhu Cirebon yang rata-rata 32 derajat celcius. Itu di kota dan daerah tempat tinggal saya, di Arjawinangun yang nan gersang, suhu harian bisa sampai 34 derajat celcius. Percaya lah, suhu sangat berpengaruh pada stabilitas emosi, jangan aneh tweet saya kebanyakan di awal kepindahan kesini mengeluh soal suhu Cirebon yang…..bikin emosi terus-terusan.
2. Perubahan bahasa, 6 tahun kuliah di tanah priangan, dengan selalu dicekoki doktrin bahwa saya sebagai mahasiswa tanah jawa barat harus bisa bahasa Sunda. Nyatanya? Ilmu itu hampir tidak bia diaplikasikan di tanah Cirebon sama sekali. Bahasa yang campuran Jawa dan Sunda (sedikit) dengan logat yang medok, dengan keterbatasan bahasa Indonesia, cukup bikin saya senewen di awal-awal kepindahan saya.
3. Strictnya RS tempat saya bernaung. Satu yang saya pelajari dari Internship ini adalah, saya sudah sampai pada titik kedewasaan bahwa kuncinya adalah IKHLAS. Denger temen-temen sejawat yang dapet wahana-wahana yang membebaskan mereka libur panjang, denger temen-temen sejawat yang bisa bolos seenak jidat mereka, pada awalnya membuat saya mengutuk tempat ini. Gimana enggak? Selama stase bangsal saya harus datang jam 7 pagi tiap harinya, ikut apel, dan visit pasien satu per satu, apalagi ada beberapa dokter yang memperlakukan kita sama aja kaya koass (alias cuma sampai pem fis aja, gak kasih terapi). Awalnya saya benar-benar menyesali dan selalu membandingkan tempat saya dengan tempat lain yang (katanya) lebih enak.
4. Minimnya penghargaan. Tambahan lagi adalah minimnya penghargaan, dalam hal ini dalam bentuk bantuan dana pada kita-kita dokter internship. Mendengar teman-teman lain mendapat “bantuan dana” ya cukup buat saya iri juga.
Tapi itu dulu, 2-3 bulan awal saya berada di RSUD ini :)
2 hari yang lalu, saya dan teman-teman satu kelompok pendamping selesai mengadakan perpisahan dengan Tim IGD RSUD Arjawinangun.
Ya, saya bersama mereka selama 4 bulan ke belakang, dari 8 Januari hingga 2 Mei 2013.
Dan apakah saya masih menyesali nasip saya ditempatkan di RSUD Arjawinangun?
Sama sekali tidak :)
Dibalik segala kekurangan RSUD tempat saya bernaung, saya bertemu dengan puluhan manusia-manusialuar biasa baik. Manusia-manusia yang walaupun hanya kontak 4-8 bulan ke belakang, tapi (mungkin) sudah saya anggap seperti kakak-kakak saya sendiri.
Tidak cuma dokter-dokternya yang luar biasa baik, perawat-perawat, petugas administrasi, staff farmasi, portir, supir ambulance, hingga cleaning service yang luarrr biasa baik.
Orang-orang yang (mungkin) ditengah segala keterbatasan mereka, selalu berhasil membuat saya belajar banyak darinya.
Tim Dokter: Dr. Rizka, Dr. Andien, Dr. Fadlan, Dr. Fragma, Dr. Sri, Dr. Mute, Dr. Faisal, Dr. Rosidi, Dr. Nur, Fitri, untuk kerjasamanya, diskusi-diskusi dari soal pasien hingga becandaannya, untuk ilmunya, untuk kesempatan belajarnya, untuk kerjasamanya, untuk traktirannya :p, dan untuk contoh baik dan buruknya supaya kita bisa belajar lebih banyak.
Tim Perawat Pagi Pak Haji Sekhu, Mas Aryani, dan para Buteki (Mba Astri, Mba Isma, Mba Iip) untuk gosip pagi dan traktiran makan siangnya, untuk doa cepat nikahnya, untuk usaha menjodohkan dengan dokter-dokter singlenya :p, saya anggap kalian semua segitu sayangnya sama saya jadi pengen saya cepet-cepet dapet jodoh :p
Mba Mey, untuk ilmu pasien psikosomatisnya, Mba Yusi, buat jokes-jokes pornonya,.
Tim Perawat-perawat shift:
- Mas Hurrie, buat panggilan Ipehnya (Tapi serius, saya lebih seneng dipanggil Ipeh daripada salah nama terus, atau lebih buruk lagi dipanggil Say :p) buat traktiran minum setiap shift jaga, buat becandaannya.
- Mas Eka, yang superrr baik sudah seperti kakak sendiri, buat nasehat kalo nanti nikahnya, buat cerita-cerita pengalaman hidupnya, mudah-mudahan bisa ketemu suami yang bisa diandelin dan bapak rumah tangga yang baik kaya Mas Eka
-Mas Her, yang nakut-nakutin mulu dengan cerita pelet khas Cirebonnya :D buat seluruh info trip jalan-jalannya, dan seluruh traktirannya! Jaga sama Mas Her selalu paling aman soal makanan :)) Semoga rezekinya lancar car car! Oiya dan juga seperti mas Eka, mudah-mudahan bisa ketemu suami yang bisa diandelin kaya Mas Her.
-Mas Adi, si SpKJ satu ini, buat seluruh becandaannya, buat tim lawan kartu yang seimbang, mudah-mudahan ga galau dan ga taruhan pake BB lagi :))
-Mas Yayan, my favorite nurse! Udah kaya kakak sendiri kalo sama orang satu ini, buat curhat perjodohannya, buat ramalan (yang meragukannya) buat masak-masak seafood dan diajak muter-muter penjuru Cirebon demi nyari seafood segar dan murmernya. Semoga yakin terus sama calonnya dan cepet nikah! :D
- Mas Dayat, mas bijak satu ini, terimakasih buat petuah (lagi-lagi) perjodohannya, dan selalu ngingetin sholat. Semoga cepet ketemu gantinya si HP yang bikin mas galau teruus.
- Mas Oji, mas perawat terganteng satu RSUD kayaknya, buat stok lagu-lagu dan hiburan lewat autoteks alaynya. :))
- Mas Zaenuji, CI satu ini banyak banget ngasih ilmu buat saya, buat bantuan nginfusnya, bantuan skill ngejaitnya, buat nasehat-nasehat tentang islam selama ini.
- Mas Agus dan Mas Fiqih, duo newbie IGD yang cengengesan mulu dan gak pernah marah walopun saya minta tolong terus
- Mas Robi, Mas Tono, Mas Khotim, Mas Alay alias Ali, Mas Kunandi, Mas Udin, yang walaupun interaksinya minim tapi setia membantu saya selama 4 bulan di IGD.
Tim Admin:
- Jeng Siska aka Agung, hihi manusia satu ini setia memberikan stok film buat fakir TV Series kaya saya
-Mas Wawan, Mba dinar and the genk yang selalu direpotin karena saya sering banget nyuruh keluarga pasien ke admin hihihi
Tim Portir:
-Mas Aan, ini partner portir yang nightmareee haha, karena entah kenapa tiap jaga sama Mas Aan selaluuu aja rame. Tapi saya terharu pisan pas mas Aan dan pas Mas Boni secara khusus ngirimin Jahe anget karena saya lagi kehabisan suara :”)
-Mas Sarjono and the genk, buat selalu siap sedia saat saya minta tolong dorong pasien.
Tim Ambulance:
-Mas Yakto, Mas Opik, Mas Pendi, lawan super jagoan soal capsa. Mudah-mudahan ilmu capsa dari kalian mengendap terus! :))
Dan seluruh staff IGD Arjawinangun yang gak bisa saya sebutkan satu per satu.
Sungguh, saat saya masuk RSUD ini sama sekali gak ada di bayangan saya bakal ketemu satu tim besar seperti kalian, dengan kebaikan kalian, ke murah hatian kalian (setiap dapet “obyekan” gak pernah absen ngirim makanan dan atau minuman), respek dan cerita-cerita pengalaman hidup kalian.
I’m definitely gonna miss you ALL!
Jadi buat siapapun yang bilang hidup saya suram di sini, atau siapapun yang dengan entengnya mencemooh tempat internship saya hanya karena tempat internship saya strict dan gak dapet uang.
Saya dapet yang jauh lebih besar dari uang, saya dapet keluarga )
Tulisan ini saya tujukan untuk kelompok internship IGD saya, periode Januari-Mei 2013, seluruh dokter organik IGD RSUD Arjawinangun, dan seluruh perawat IGD RSUD Arjawinangun.
Cheers!

December 27, 2012

Leery


Sembari menunggu kedatangan pasien baru (yang sebenarnya tidak diharapkan) saya sering berbincang-bincang dengan para koass Obgyn yang sedang stase di VK.
Hari itu, seorang koass sedang melakukan rutinitas curcol berjamaahnya,
Sambil sesekali memakan cemilan (yang sebenarnya diperuntukkan untuk bidan) saya ikut nimbrung dalam pembicaraan siang itu.
Si koass bercerita tentang pertengkaran yang sedang dia hadapi dengan pacarnya, saat saya tanya kenapa dia menjawab “Kemaren aku ke CSB kak, terus dr GPS ketauan sama dia, terus dia marah”
Saya terdiam, hingga harus bertanya, “GPS? Kok dia bisa tau GPS lo?”
Dan si koass pun bercerita tentang bagaimana dia yang terlebih dahulu mengaktifkan program lattitude di google maps, dan kemudian akhirnya pacarnya pun tau dan mempergunakan hal yang sama untuk memantau berada dia dimana sekarang.
And I was like, Hell, why do people do that? On what purpose?
“Ngapain lagian lo pake aktifin lattitude segala?” tanya saya.
Dan si koass menjawab “Ya pengen tau aja kak, awalnya… Dia lagi ada dimana, bener gak yang dia bilang ke aku, terus kalo dia udah tidur, bener dia ada di rumahnya atau enggak”
and I was shocked.
Has relationship fall into that era? Where you can trust where your spouse at?
Dan di tengah kekagetan saya, koass-koass lain menambahkan, tentang bagaimana teman mereka memasang chip GPS ke mobil pacarnya untuk mengontrol kemana saja pacarnya pergi, tentang bagaimana teman mereka memasang kamera kecil di dalam kamar kost pacarnya untuk memantau siapa-siapa saja yang masuk ke kamar.
Really?
Apakah kepercayaan benar-benar sudah selangka itu sekarang?
Sampe terucap kalimat dari mulut saya “Gue udah jomblo selama itu ya, sampe gatau kalo pacaran jadi begitu hari gini?”
Mereka tertawa.
Saya tertawa.
Tapi kepala saya tak berhenti berfikir.
Saya, sejauh ini, bukan tipe posesif pencemburu yang sampai masuk batas tidak masuk akal (hopefully :p) dan tidak pernah juga berfikir untuk sampai kesana.
Yang saya tau, relationship should bring happiness into your days. Not constant worries. Not constant jealousy. Not constant doubt about your spouse.
Do we really that dependent that we should always know where and with whom our spouse at?
Is trust really hard to find these days?
Is commitment really had flushed down to the toilet that we have to be suspicious all the time?
How can you be in a happy marriage if you cant trust the people youve married to?

How can you let each other grow in their own way to grow, if you cant even trust whether they’re at.
How can you raise a future bright generation if you cant even trust the people you raised them with?
Saya gak habis pikir.

November 8, 2012

Blank Stare


Those blank stares.
Tatapan kosong itu.
Setiap manusia saya yakin mempunyai fase dimana sebuah petir dahsyat melanda kehidupan mereka.
Suatu berita buruk di siang bolong, yang meluluh lantakkan hidup.
Menjungkirbalikkan rencana. Mengubah makna.
Bekerja sebagai dokter internship, membuat saya belajar soal hidup.
Soal beratnya intrik kehidupan kerja sesungguhnya.
Hebatnya kemampuan uang.
Besarnya pengaruh kekuasaan.
Dan makna sebuah kehidupan.
Turun bekerja langsung di dunia medis membuat saya melihat hidup dengan cara lain.
Entah karena pengalaman saya yang memang masih minim, atau karena nurani saya yang belum tergerus uang.
Tapi saya masih (dan mudah-mudahan akan selalu) menujunjung tinggi nilai sebuah kehidupan.
Rentannya profesi kami, di dunia kesehatan, adalah seringnya kami terpapar oleh berita buruk.
Kanker.
Syok.
Infeksi sistemik.
Gagal organ.
dan Kematian.
Hal ini berefek pada nurani, yang lama-lama, pelan-pelan, sedikit-sedikit, mulai luntur disana disini.
Mungkin tulisan saya terlalu mengeneralisir, tapi itu fakta yang saya hadapi.
Saat kematian menjadi sebuah hal biasa, empati kitapun tercecer entah dimana.
Memberi informed consent seakan itu adalah hal biasa.
Tapi hari itu, beda.
Usai saya memberikan informed consent kepada seorang bapak soal keadaan istri dan kedua anak kembar yang sedang dikandung istrinya, saya duduk dibalik meja nurse station ICU.
Sang bapak tersenyum pada saya, setelah saya menjelaskan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi, kedua anaknya tak selamat, istrinya pun tak berani saya jamin.
Saat perawat sibuk menyiapkan lembar informed consent untuk beliau tandatangani, sekilas saya melihat tatapan itu.
Tatapan kosong itu.
Rasa panas entah dari mana tiba-tiba muncul di dada saya.
Saya baru saja memberikan petir besar di dalam hidup beliau.

Bagaimana tidak besar? Saya memberitahukan keadaan istrinya yang sedang dalam keadaan Decompensatio Cordis Functional Class III-IV et cause Peripartum Cardiomyopathy dengan in partu pembukaan 6-7, Post Eklamsia, tanpa adanya kemungkinan untuk dilakukan Sectio Cesarea Cito di tempat saya bekerja.
Secara logikapun, saya tidak yakin 100% ibu ini dapat melewati persalinan dengan lancar.
Jantungnya lemah, nafasnya sesak. Bahkan ibu yang normal sekalipun sulit untuk mengedan saat persalinan, apalagi pasien ini dengan dasar penyakit yang cukup rumit.
Tidak cukup saya memberitahukan keadaan ibunya yang ‘jelek’, saya juga harus memberitahukan bahwa mungkin kedua anak kembar yang sedang dikandung si ibu akan mengalami sulit bernafas.

Dan saya melakukan informed consent seakan-akan itu hal yang biasa.

Tatapan kosong itu.

Pelan setelah si bapak selesai menandatangani semua form, beliau mengangguk pada saya, dan berjalan ke samping istrinya sambil memberikan teh manis hangat yang beliau pegang.

Saya tertampar.
Saya baru dua bulan, dan sejauh ini, belum terkontaminasi uang. Namun hati saya mulai kebal dengan berita buruk yang selama ini saya sampaikan.
Guru-guru saya selalu berkoar-koar soal empati, empati, dan empati.
Baru kali ini saya sadari bahwa empati bukan soal kata-kata yang diulang setiap hari.
Tapi soal hati, yang selalu bisa menempatkan diri.
Bukan soal siapa yang paling pintar.
Tapi soal siapa yang paling bernurani.

Tulisan ini saya tulis untuk mengingatkan saya dimasa depan nanti, sebesar apapun godaan uang menanti, hati ini harus selalu diasah dan diresapi. Didengar dan dihayati.
Jangan sampai saya menjadi orang tak berhati, yang selama ini saya temui dan saya benci.

February 25, 2012

Bukannya mau sok tau atau ngajarin...

Okay, jadi ini adalah hari pertama saya resmi selesai koas. Well, sebenernya belum resmi sih, secara belum judicium dan pengumuman kelulusan forensic juga, tapi setidaknya terhitung hari ini saya gak akan menginjak lantai RSHS sebagai koass lagi.

Apa yah yang berubah dari saya sejak koass?

Satu yang pasti: kerudung.

Udah lama sebenernya saya pengen nulis soal topik satu ini, tapi entah kenapa gak pernah selesai. Antara gak yakin kalo sebenernya saya sudah diposisi yg tepat untuk ber’ceramah’ soal ini atau enggak. Tapi kemaren membaca satu tweet dari ustad felix, isinya gini:

“jadi mau akhwatnya maksiat/enggak, baik/jahat, tetep aja nutup aurat dengan jilbab dan kerudung wajib, tak ada pilihan dalam kewajiban”

Tweet ini bikin saya mikir, satu yang saya dapat ketika saya memutuskan buat berjilbab adalah cara pandang orang terhadap wanita berjilbab berubah. Cara pandang masyarakat Indonesia terhadap seorang perempuan yang memutuskan untuk berjilbab adalah wanita itu pasti dan harus ‘lebih mulia’.

Benar, dengan menggunakan jilbab tanggung jawab yang saya ‘pikul’ menjadi lebih berat, karena saya sering kali mendengar orang berkata “Ih, padahal pake jilbab tapi masih genit” atau “Ih, padahal pake jilbab tapi ngomongnya kasar”. Seakan-akan itu sebuah dosa besar kalo orang yang pake jilbab yang ngelakuin. Pertanyaan saya, emangnya kalo gak pake jilbab jadi boleh ngomong kasar?

Ekspektasi orang terhadap wanita berjilbab memang meningkat. Jujur sampe sekarang saya juga masih kadang-kadang ngomong kasar, saya masih belum bisa mengubah kebiasaan lebih suka bergaul sama laki-laki dibanding sama perempuan, saya masih jarang sholat sunnah, saya masih sering lupa baca Quran. Apa lalu dengan seperti itu saya jadi gak layak pake jilbab?

Gak. Menurut saya pake jilbab itu kewajiban, tertulis nyata di Quran. Apakah itu langsung membuat saya jadi muslim yang lebih baik? Bukan dari situ nilainya menurut saya. Insya Allah saya jadi muslim yang lebih baik setiap harinya, tapi bukan karena jilbab saya, tapi karena saya pengen.

Seperti siswa SMA, semua siswa SMA wajib menggunakan seragam. Tertulis nyata seperti itu. Apakah lalu dengan pake seragam langsung membuat mereka jadi murid teladan? Jadi super pintar? Jadi rangking satu? Enggak.

Begitu juga dengan kerudung.

Beberapa orang bilang “Ah lebih baik jilbabin hati dulu”. Kalo saya balikin ke kasusnya anak SMA, apakah ada anak SMA yang bilang “Ah lebih baik saya rangking 1 dulu, baru saya pake seragam”.

Enggak kan?
Padahal seragam di sekolah cuma kewajiban dari pemerintah.
Dan Jilbab adalah kewajiban dari Allah, yang memberi kita hidup yang kita jalani sekarang.

Contoh kasus lain:

Temen-temen tau soal malpraktik? Banyak kasus yang sebenarnya bukan malpraktik tapi sering salah persepsi sehingga dibilang malpraktik.

Satu yang saya inget dari pelajaran guru-guru etik saya tentang malpraktik adalah: apabila seorang dokter telah melaksanakan seluruh kewajiban sesuai dengan prosedur yang tepat maka hasil buruk yang ternyata di dapat oleh pasien bukan sebuah malpraktik, beda halnya dengan apabila si dokter memang tidak melaksanakan kewajibannya, maka itu disebut malpraktik.
Intinya apa dari analogi diatas? Yang penting adalah kita melaksanakan kewajiban kita.
Bagaimana nanti pada akhirnya adalah sebuah suratan dari yang diatas. Tapi ketika kita tidak melaksanakan kewajiban tersebut, detik itulah kita melakukan kesalahan.

Okay, enough soal anologi dan ceramahnya.

Saya pribadi menjalani 1,5 tahun berjilbab ini bukannya tanpa kerikil.
Pernah kenal orang yang jauh lebih cantik ketika dia pake jilbab dibanding enggak? Yap, orang ini adalah orang yang beruntung. Tapi ada juga orang yang (katanya) lebih cantik gak pake kerudung dibanding saat pake.

Kata temen-temen saya, saya salah satunya.
Gak satu, dua orang yang bilang saya lebih ‘menarik’ ketika gak pake kerudung. Banyak yang bilang. Beberapa bahkan sampe sempet bilang “Jadi kapan lo buka kerudungnya?”.

Miris gak? Miris lah.

Kadang-kadang saya juga sempet agak meragu, keputusan saya berkerudung 1,5 tahun yang lalu bakal menghambat saya ketemu si long-time-partner atau gak. Tidak bisa dipungkiri kan laki-laki adalah makhluk visual :P

Tapi saya sampai pada suatu kesimpulan. Kalo emang bener kata temen-temen saya yang bilang saya lebih ‘menarik’ ketika gak berkerudung, berarti suami saya nanti adalah pria yang sangat beruntung ya? Bisa ‘menikmati’ itu hanya buat dirinya sendiri. Hehe. GR ya? Tapi begitulah kata kakak saya, dan saya juga percaya seperti itu.

Haduh, jadi ngelantur kemana-mana gini ceritanya. Hehe.

Intinya, buat teman-teman wanita di luar sana yang masih ragu soal berkerudung, saran saya cuma satu: langsung pake aja gak usah pake mikir. Kadang kita terlalu dimakan sama pikiran-pikiran kita sendiri, terlalu banyak khawatir akan hal-hal yang gak bisa kontrol, dan akhirnya malah menyurutkan niat baik kita buat menjalankan kewajiban. Soal sifat , sikap, kelakuan, dan ibadah kita nanti insya Allah akan ‘ikut’ ter upgrade bersama dengan kewajiban yang kita jalani. Bismillahirrahmanirrahim.. :)

December 31, 2011

Mission #2011

Selalu suka sama kelas yoga yang dipimpin sama Mba Puji, Mba Puji ini adalah yang punyanya tempat kelas yoga yang gue ikuti, Yoga Leaf di Dago.

Mba Puji ini perawakan cantik, tipe cantik yang calming gitu, dan cara bicaranya menenangkan banget.

Yang gue suka dari kelas yoga yang dipimpin sama Mba Puji ini, dia selalu ngajarin sesuatu.

Kelas yoga gue hari ini dibuka dengan Mba Puji sharing apa yang dia tau soal yoga, dan cabang-cabang yoga.. Ngejelasin soal Hatta Yoga, Bikram, Ashengga (kalo ga salah spelling), dan jenis-jenis yoga lain.
One more thing to learn about.

Yang menarik hari ini adalah, sesi yoga hari ini ditutup dengan sesi sharing dari Mba Puji.

Awalnya Mba Puji cerita, dia dikirimi email oleh temannya, yang menanyakan mengenai Misi Hidup.
Menurut ceritanya Mba Puji, temannya ini adalah seorang lulusan Elektro ITB yang sudah jadi manajer di sebuah perusahaan multinasional, ditengah kesuksesannya, temannya ini merasa gamang, apakah dia berada dalam posisi yang tepat, apakah saat ini dia benar-benar mencapai misi hidupnya di dunia.

Lalu Mba Puji berbagi soal Misi Hidup yang dia pahami, menurutnya Misi Hidup manusia berbeda-beda. Kadang manusia terlalu sibuk berfikir terlalu jauh, sibuk berfikir apa yang belum kita punya, terlalu sibuk berfikir apa yang kurang dari hidup kita, sehingga kita kadang lupa, bahwa kita berada di posisi kita yang sekarang,detik ini adalah posisi terbaik yang telah Allah gariskan untuk mencapai misi hidup kita.

Belajar untuk merasa cukup.

Kadang kita merasa tidak puas dengan apa yang kita punya. Selalu merasa hidup kita ‘kosong’ dan serba ‘berkekurangan’. Selalu ingin punya barang baru, punya sesuatu yang baru, dan tidak merasa puas dengan apa yang di dalam diri kita sendiri. Kadang kita merasa kosong, dan merasa bahwa barang, benda, dan manusia di luar lah yang dapat mengisi kekosongan tersebut, padahal yang perlu kita lakukan hanyalah menyadari rasa kosong itu, dan menikmatinya. Menerima bahwa rasa kosong tersebut merupakan bagian dari diri kita.

Saat kita mengejar sesuatu diluar diri kita, entah itu barang, karir, atau bahkan manusia, yang kita anggap dapat mengisi kekosongan dalam diri kita, kita menjadi terikat. Attach. Rasa kekosongan yang mulai terasa terisi, pada dasarnya hanyalah sebuah rasa yang sementara. Rasa keterikatan ini, tentunya tidak abadi, ada masanya kita harus terlepas. Terpaksa atau pun tidak. De-attach.

When we let go, we receive

Sama seperti cerita teman Mba Puji yang merasa tidak dalam posisi nya yang tepat untuk mencapai misi hidupnya.

Manusia, sebagai khalifah diatas bumi, pastilah diutus Allah untuk mencapai misi tertentu.
Satu sperma diantara puluhan juta yang bisa berada disaat yang tepat, waktu yang tepat, dengan presisi yang tepat untuk membuahi satu ovum, yang nantinya akan menjadi kita, manusia.

Kita punya misi hidup masing-masing, entah itu yang kita sadari dan kita jalani, ataupun misi hidup yang mungkin belum kita sadari. Kadang kita terlalu sibuk berfikir, apakah hal yang kita jalani adalah jalan yang tepat atau tidak. Sibuk berfikir bahwa mungkin seharusnya kita melakukan hal yang berbeda, berada di tempat yang berbeda, padahal kita ada disini sekarang merupakan suatu proses menuju misi hidup kita.

Menjadi kita yang bermanfaat dan berguna bagi dunia.
Menjadi guru, pembantu, ibu, dokter, penulis, artis, teknisi, presiden.
Apapun itu, yang kita jalani dan akan kita gapai sesungguhnya adalah posisi dan peran yang tepat bagi kita untuk bermanfaat di dunia.

Mba Puji kembali bercerita tentang seorang temannya, yang mengalami kegagalan menjadi ABRI setelah 5x mencoba.

Kadang kita sebagai manusia, terlalu memaksakan kehendak, sehingga mengabaikan pertanda yang diberikan semesta kepada kita.
Sesungguhnya, kita sebagai manusia tidaklah melakukan ‘pemilihan’.
Kitalah yang terpilih.
Terpilih untuk menjalankan suatu peran di bumi.
Ketika kita menjalani suatu proses, dan kita merasakan kesulitan-kesulitan, maka terimalah fakta bahwa mungkin peran terbaik kita di bumi bukan disana.
Sehingga kita terpaksa berbelok, mencoba peran lain, dan ternyata dimudahkan.

Allah memberikan pertanda melalui dua cara tersebut, memudahkan kita menuju peran yang memang ‘disiapkan’ untuk kita, atau menyulitkan jalan menuju peran yang bukan untuk kita, sehingga memaksa kita untuk berbelok, menuju peran yang memang benar terbaik.

I used too many ‘kita’ eh? Sorry, my bad. :p

Menuju tahun baru, banyak orang menuliskan resolusi-resolusi yang ‘diluar’ jangkauan.
Bermimpilah setinggi mungkin, katanya.
Namun pada kenyataannya kita harus belajar untuk membuat resolusi, langkah demi langkah.

Sama seperti yoga yang pada awalnya masih harus menggunakan bantuan balok dan tali, lama kelamaan berkembang dan semakin mahir sehingga tidak membutuhkan bantuan lagi.

Buatlah resolusi yang mungkin untuk dicapai, mungkin untuk dijalani.
Satu langkah ke depan, satu langkah kesamping, atau mungkin satu langkah kebelakang.
Yang jelas jangan pernah berhenti bergerak

August 27, 2011

Maklum (?)

Hai! Kayanya udah lamaaaa banget dari terakhir saya ngepost tulisan saya yah?

Menuh-menuhin dashboard kalian ya? Yaa maaf deh, disaat pikiran ini melanglang buana kayanya ada baiknya saya mendokumentasikan ide-ide dan pikiran absurd ini. Daripada cuma nyelip di sinaps dan terkubur memori lain :p

Saya baru dapet kejadian yang agak gak enak, sekaligus menyentil saya buat nulis dengan tema ‘Maklum’.

Sering gak sih denger kata ini? Kayanya buat kita, orang Indonesia dengan budaya timur yang kuat (apalagi saya berada di ranah pulau jawa) sering banget kita diminta buat maklum.
“Maklum aja lah si X lupa ngerjain tugas, kalo ditegur suka nangis”
“Maklum aja lah si Y numpahin susu di jok mobil lo, kalo disalahin suka marah balik”
“Maklum aja lah si Z gak jaga. Dia suka banyak alesan kalo ditegur”

Pasti kita semua pernah (atau bahkan sering ngadepin keadaan kaya gini.
Saya pribadi, kesel BANGET kalo disuruh me-maklum-kan orang kaya gini.
Well, mungkin terdengar egois atau gak pengertian, tp buat saya pointnya gak disitu,
Kalo saya mau maklum sama keadaan seseorang, biarkan saya memahamikeadaan dia, dan biarkan saya yang memutuskan apakah saya mau memaklumi dia atau tidak.

Contoh kasus:
“Maklum aja lah si A lupa ngerjjain tugas, tadi malem dia jaga
Ketika alesan saya untuk memaklumi dia masuk akal, buat saya gak masalah, ini hanya soal menempatkan diri saya di posisi dia, put my self in their shoes.
Tapi ketika saya harus memaklumi seseorang krn sifat (jelek)nya dia dari sananya memang begitu, buat saya gak masuk akal.

Bayangin gak kalo waktu kecil ketika kita suka ngejilatin apapun yang ada di depan mata. Kebayang gak kalo saat itu orang tua kita mikir “Maklumin aja lah, Shasha ngejilatin kap mobil, gak bisa dilarang”. Mungkin saat ini saya udah punya usaha cuci mobil *loh* Hehe, kidding.

Point saya adalah, ada saatnya yang kita harus lakukan bukan saling memaklumi.
Bukan cuma menerima fakta bahwa mereka begitu.
Bukan saling membiarkan mereka ke arah yang lebih buruk. Dengan pemakluman kita bahwa “Kalo ditegur suka nangis” “Kalo disalahin suka marah balik” “Banyak alasan kalau ditegur” ya orang-orang ini (mungkin termasuk saya) bakal mikir kalo sikap mereka benar.
Bahwa orang bisa memaklumi sifat/sikap mereka yang salah itu.

Ingat, kita sebagai manusia (khususnya muslim) punya kewajiban buat ngingetin dan ngasi tau yang benar ke sesama saudara kita. Bukannya memakluminya dan menjerumuskan mereka makin dalam.

Saya pribadi sih, kalo saya cukup care dan saya tau orang yang mau saya ingetin itu MAU ngedenger, insyaAllah saya ingetin. Saya juga maunya gitu, toh siapa sih saya, jauh banget dari sempurna.

Ciao!

August 13, 2011

Koass.

Ngeliat excitement dan ketakutan temen-temen 07 yang mau koas…
Jd inget, ini udah hampir 1 tahun gue ngejalanin hari2 gue sebagai dokter muda di rshs.
Capek, gondok, seneng, sedih, stress, excited, terharu.
Semua kumpul jadi satu.

Capek. Ketika residen a nyuruh x, residen b nyuruh y, residen c nyuruh z. Dan jangan lupa tekanan dari teman sekelompok, yang MT, yang pemales, yang tukang cari ribut, yang ngabur mulu, yang batu. Semua ada :D

Gondok. Ketika tugas lo semua yang ngerjain, tp for-kolegalisme-sake mau ga mau harus nyantumin nama temen yg ga ngapa2in di cover tugas. Jangan lupakan teman yang terkadang MT saat jaga.

Seneng. Ketika tugas lo dipuji, ketika liat pasien membaik, ketika residennya baik dan mau ngasih ilmu2 praktis, dan ketika kecengan nyapa lo di lorong-lorong rumah sakit. *eh* *loh*

Sedih. Ketika ujian kena jebakan batman penguji. Ketika dimarahin residen. Ketika gak bisa jawab pertanyaan dr pasien dengan sempurna.

Stress. Longcase IPD, sooca IPD, Longcase Anak, nunggu oncall forensik. Ga ada yg ngalahin deg-degannya.

Excited. Nginfus pertama, masang kateter pertama, pasang ngt pertama, ngeekg pertama, nebu pertama, jahit pertama, resep pertama, informed consent pertama, rjp pertama, diagnosis benar pertama, terapi pertama. Semua pengalaman pertama.

Terharu. Dengan gimana pasien bilang terimakasih sama lo. Dengan liat suami yang nemenin istrinya melahirkan. Dengan ibu yang nungguin anaknya sakit. Dengan anak yang nungguin ibunya sakit. Dengan gimana keluarga pasien mendoakan kelancaran studi kita. Dengan gimana kita sadar bahwa diluar sana, banyak yang butuh kita :)

Yap. Koas dengan dinamikanya. Capeknya. Gondoknya. Senengnya. Stressnya. Sedihnya. Excitednya. Terharunya. Dan sejuta perasaan lainnya yang gak akan pernah kita temuin saat dihadapan kita cuma kertas, buku, dan dosen. Bukan manusia-manusia nyata yang butuh bantuan kita. :)

August 12, 2011

[fiction] Febi

[fiction] Febi.

Saya Febi Aprillia. Saya bekerja sebagai dokter jaga di ruang ICU Rumah Sakit Sekar Wangi. Setiap hari saya melihat pasien datang dan pergi. Datang dengan wajah panik dari keluarganya, dan pergi dengan dua kemungkinan. Tangisan duka cita, atau Tawa dan beribu terimakasih suka ria.

Saya Febi Aprillia. Setiap hari saya disini, 18 jam sehari, 7 hari seminggu. Bukan, saya bukan kekurangan uang sehingga harus banting tulang bekerja dengan shift penuh. Saya hanya senang merasa dibutuhkan. Disini saya tidak pernah merasa sendirian. Ada pasien, ada suster, ada cleaning service, ada keluarga pasien yang menemani saya berbincang 24 jam sehari, 7 hari seminggu.

Ah, pasti yang ada di otak kalian saya seorang anti-social ya? Yah, mungkin bisa dikatakan seperti itu. Kedua orang tua saya meninggal setelah saya lulus dokter, jarak antar ayah dan ibu saya meninggal hanya berkisar 2 minggu. Bahkan mereka tak dapat hidup sendiri. Saya anak tunggal yang dibesarkan sendirian, tidak mempunyai saudara dekat lain. Sahabat? Ah, satu per satu terdegradasi seiring hidup saya yang terokupasi disini, di ruangan 15 x 5 ini, berisi 8 bed dengan peralatan khas ICU ini, dengan bunyi monitor jantung, nafas, nadi, tensi yang bergantian berbunyi setiap waktu. Dengannya, hari ku tak pernah sepi.

Saya Febi Aprillia. Single. Dan tidak akan pernah ready to mingle. Kehidupan perkuliahan saya yang datar, wajah saya yang biasa saja, ditambah kepribadian saya yang bisa dibilang membosankan menutup kemungkinan saya bertemu pria ideal. Yah, toh saya bahagia disini, di ICU ini, di Rumah Sakit ini.

Saya Febi Aprillia. Hari ini sama seperti hari-hari saya seperti biasa, bangun dari futon yang sengaja disiapkan untuk saya beristirahat di ICU ini, bangkit dan memberikan instruksi pada perawat, dan bersiap melaksanakan follow up harian.

Namun ada yang berbeda hari ini. Tangan saya tak ikut bergerak seiring dengan perintah otak saya. Dengan sekuat tenaga saya memerintahkan tangan kanan saya menopang tubuh saya untuk bangkit dan tak ada yang berubah. Nafas saya semakin cepat. Ada apa ini. Ratusan diagnosa muncul di kepala saya. Stroke kah? Berpaling saya pada tangan kiri saya, dengan sekuat tenaga pula saya perintahkan tangan kiri saya menopang tubuh ini bangkit, tak ada apapun yang terjadi. Baiklah,ekstremitas tak bisa diharapkan, mungkin batang tubuh yang tersisa. Pelan saya mencoba mengangkat leher saya. Eh. Apa ini yang terjadi? Mengapa saat ringan?

Terdiam saya oleh satu fakta. Saya dapat melihat tubuh saya berbaring di futon hijau buluk tempat saya tidur setiap harinya. Entah kenapa, semua terasa ringan seperti terbawa di udara. Berkali-kali saya berteriak memanggil perawat yang saya lihat masuk ke ruang ICU. Hey, saya disini! Teriak saya. Si perawat tak berpaling, malah berusaha membangunkan tubuh saya yang tergeletak kaku di futon buluk itu. Hey, saya disini Suster Asih! Tak terjadi apa-apa. Hey! Hey!

Mengapa ada ayah dan ibu saya tersenyum di pojok sana?

August 8, 2011

Menunggu layang-layang

Menunggu Layang-Layang.
Che: Aku... Memang segitu takutnya... Segitu enggak percaya-nya. Tapi, aku sekarat tanpa kamu. Sori, aku enggak pernah berani jujur. Dua hari itu adalah dua hari paling indah dalam hidupku.
Starla: Baru sekarang aku tahu rasanya kehilangan. Sakit sekali. Aku kangen tempat sampahku.
Che: Hei. Mau tempat sampah kek, mau septic tank, mau lubang biopori, aku rela. Aku kangen teleponmu, curhat-curhat busukmu, aku kangen kamu. Sangat amat kangen.
Starla: Tapi, nanti aku curhat tentang siapa, dong? Aku enggak mau sama siapa-siapa lagi.
Che: Curhat tentang aku kan bisa
Starla: Gimana mungking aku curhat sama kamu--tentang kamu?
Che: Anggap saja kamu ikan lele. Bisa berkembang biak di septic tank. Dia hidup bahagia di tempat sampahnya

August 1, 2011

Synapses

Synapses.

It’s funny how brain stores memories, eh?
Beberapa benda, bau, kejadian kecil yang membawa pikiran ini jauh melanglang buana.

Pada satu momen itu.
Momen saat aku tahu aku benar-benar bahagia.
Saat aku tahu bahwa hidupku, saat itu, lengkap.
Sempurna.
Momen yang mungkin tidak mungkin pernah kamu, mereka, atau bahkan aku sendiri bayangkan.
Yang mungkin terselip antara sinaps neuron-mu, terlupakan begitu saja.
Momen sederhana yang selalu mendatangkan rasa tidak nyaman di dada.
Kata orang, itu namanya heartburn.
Dyspepsia kah? GERD kah? Atau bahkan tanda infarct?
Bukan.
Ini mungkin hanya rasa ngilu dari hatiku yang terbakar.
Terbakar oleh memori-ku tentang kamu pada momen itu.
Momen ketika kamu berada di belakangku.
Bercerita tentang sebuah lagu.
The Script - Breakeven.
Dengan cahaya temaram,
Dan latar belakang suaramu
Aku tahu, saat itu, aku bahagia.

Dan heartburn itu muncul.
Selalu. Bahkan saat aku menulis ini untukmu.
Rasa terbakar tak nyaman di dada.
Rasa tak nyaman yang mengingatkanku, menamparku, menyadarkanku aku pernah sebahagia itu.
Dan aku akan sebahagia itu nanti.
Entah bagaimana caranya.

July 27, 2011

Hard way.

I learnt the hard way, that life is not easy, and people aren’t perfect. So, everytime life becomes too easy, or people comes out too perfect, I tend to think that something is wrong. Something has to be wrong. Cause life doesn’t work that way

June 27, 2011

Partner. Pacar. Sahabat

Saya punya 3 term buat orang-orang terdekat dalam hidup saya.
Partner.
Pacar.
Sahabat.

Partner adalah orang dimana saya men’challenge’ pikiran saya, pendapat saya, way of thinking saya, perspektif saya terhadap sesuatu.
Partner adalah dengan siapa saya dapat berdiskusi murni dengan logika. Berdebat, belajar, dan menyimpulkan sesuatu. Singkatnya partner ini adalah ‘guru’ saya.
Kursusnya? Bisa mengenai hidup, agama, cara pikir, cerita cinta, apapun. Sejauh ini entah kenapa saya punya partner semuanya laki-laki. Mungkin karena fungsi partner buat saya adalah seseorang untuk memuntahkan fakta ke depan muka. Sesakit, sekasar, seberat apapun faktanya.
Intensitas bertemu minimal, tapi saat kita ketemu mostly saya dapet sesuatu dari pertemuannya.

Pacar buat saya, adalah orang yang intensitas berhubungannya paling tinggi, otomatis paling tau cerita hidup sehari-hari saya. Pacar ini buat saya semacem diary. Tempat saya cerita, tempat saya berkeluh kesah, teman berbagi mimpi. Kadang berfungsi sebagai partner, meski kadang suka dipertanyakan keobjektifannya (krn sayanya suka ngambekan hehehe :p). Sama pacar ituuuubisa dibilang 50-50, 50 logika + 50 hati. jadinya kadang keputusan saya suka se objektif itu euy.
Kalo sama partner biasanya saya ditampar-tamparin dengan debat-debat, perbedaan pendapat, dan ‘kursus’nya, pacar itu buat saya tempat bersandar dalam lelahnya dunia *saelah bahasanya :p* Biasanya the most supportive people in my life. Karena mostly tentang masalah-masalah, cerita sehari-hari saya yang tau ya dia.
Pacar ini… cuma satu dan laki-laki *yaiyalah*

Sahabat. Nah, kalo ini beda lagi. Sahabat buat saya itu adalah motivator handal, tempat curhat yang hebat. Mereka adalah orang-orang yang selalu ngedukung saya, bahkan mungkin ketika saya dalam posisi yang harusnya ga didukung. Saya bisa cerita sejuta hal sama mereka, mungkin karena intensitas hubungan kami biasanya paling minim. Tapi kalo sama sahabat 100% loyalti saya buat mereka. Hubungan timbal balik yang sempurna. Saya ada buat mereka ketika mereka butuh, mereka ada buat saya ketika saya butuh. Mostly sih semua sahabat saya yaaa orang-orang yang udah lama lalu lalang dihidup saya. Yang kenal saya se-kenal-kenalnya. Yang gak pernah kehabisan topik cerita sama mereka. Sama mereka, saya 80-20, 80-perasaan, 20-logika. Makanya kadang pendapat saya buat mereka suka ga objektif. Anything that makes them happy :)
Sahabat saya… mostly cewe dengan 1-2 cowo.

So, if you have that one person in your life, yang bisa berlaku sebagai partner + pacar + sahabat, embrace them, love them, treat them well, karena gak semua orang bisa seberuntung Anda ;)

Buat yang gak punya, anggap saja ternyata Allah sesayang itu sama kalian, ngasih kalian banyak orang dengan peranan yang beda-beda. Dengan tujuan yang beda-beda. Dan pada akhirnya, kalo kalian kehilangan salah satunya, masih ada 2 yang tersisa. :)

Jangan pernah berhenti bersyukur!
….Maka nikmat Allah mana lagi yang kamu dustakan?

May 27, 2011

Adaptability.

Perubahan itu sebuah kepastian. Baik tiba-tiba, ataupun perlahan. Terpaksa ataupun memang ingin mencoba.

Seorang teman pernah berkata ketika kami berdiskusi tentang kemungkinan adanya Pintu Kemana Saja di masa depan, teman saya ini bilang “Gak mungkin ditemukan Pintu Kemana Saja dalam waktu dekat, industri sepeda, motor, mobil, kapal, kereta, pesawat bakal hancur. Yang namanya penemuan revolusioner itu gak mungkin jadi dalam waktu singkat. Perubahan itu pasti bertahap”.

Ini mengingatkan saya pada perubahan yang (disadari atau tidak) terjadi pada kehidupan kita sehari-hari, terlebih pada diri saya (ya iyalah, saya kan pasti lebih nyadar perubahan pada diri saya) ;p

5 tahun yang lalu, kalo saya disuruh tidur di kamar sendirian tiap malam, belum tentu saya mau.

4 tahun yang lalu, kalo saya diharuskan datang jam 11 malam untuk mengotopsi jenazah baru, pasti saya ketakutan.

3 tahun yang lalu, kalo saya punya pacar yang sehari-harinya ditengah laut tanpa sinyal, sulit dihubungi dan sulit komunikasi, belum tentu hubungan kita baik-baik aja.

2 tahun yang lalu, kalo saya disuruh milih 1 orang untuk cerita seluruh masalah hidup saya, kayanya gak akan kepikiran siapapun.

1 tahun yang lalu, ide bahwa saya bisa bertahan setelah kejadian gak enak selama satu tahun ke belakang, pelan-pelan membuat pertahanan pribadi tanpa perlu orang lain tampak sangat gak mungkin.

Pada akhirnya, seluruh hal baik ataupun buruk yang terjadi pada kita, adalah sebuah proses adaptasi, proses perubahan diri kita menjadi pribadi sebaik-baiknya. Pribadi yang akan cocok dan sesuai dengan keadaan kita di masa depan.

Kita yang mungkin tadinya manja, sengaja Allah didik dalam masa perkembangannya menjadi pribadi yang lebih sesuai dengan keadaan kita di masa depan nanti, entah itu mungkin menjadi lebih mandiri karena pada masa depan kita harus hidup sendiri, atau mungkin malah bertambah manja, karena ternyata masa depan kita menuntut menjadi lebih manja.
Kita yang tadinya sangat cuek, sengaja Allah pertemukan dengan orang yang sedikit demi sedikit membangun rasa perhatian kita.
Mereka yang tadinya sangat serius, sengaja Allah pertemukan dengan orang yang lebih luwes dan easy going, agar kita menjadi lebih relaks dalam menikmati hidup.

Baik atau burukkah perubahan yang kita alami selama masa perjalanan ini, sesungguhnya mungkin sulit untuk kita nilai, relatif.
Tapi yakinlah bahwa perubahan yang kita alami ini, hanyalah sebuah jalan untuk menjadi pribadi yang lebih sesuai dengan keadaan kita di masa depan nanti

May 23, 2011

Kualat!

Minggu lalu, temen SMA gue, Meta dan Dhika nikah.

Yang lucunya adalah ketika gue salaman sama Dhika di Pelaminan, dia ngomong gini ke gue:
“Makasih ya Sha, udah nyumpahin Meta bakal Cinlok sama gue. Kalo gak, gue gak ada disini kali sekarang”

Dan ini mengingatkan gue sekitar 6 tahun yang lalu. Yap. Kalo inget-inget jaman SMA dulu, waktu si Meta masih gondok-gondoknya sekelompok TO sama Dhika, gue-yang waktu itu dengan ngasalnya- nyumpahin Meta bakalan cinlok sama Dhika. Dan masih keinget mukanya Meta -yang mungkin ngasal juga- bilang amit-amit.

Lucu ya?

Gimana suatu hari, kita sebel-kesel-bilang amit-amit tentang seseorang,
dan gimana di hari lain, kita gak bisa ngebayangin hidup tanpa orang itu, and ended up, getting married :)

Gue pribadi gak pernah sih punya pengalaman suka-sayang-atau even jatuh cinta sama orang yang gue sebelin sebelumnya.
Tapi bukannya gak pernah blg ‘amit-amit’ atau disumpahin sama temen gue juga.

Pada akhirnya, kesal, benci, cinta, hanya sebuah rasa yang begitu mudah bercampur dan
memberikan sensasi yang berbeda.

Lucu ya. Gimana Semesta berkonspirasi demi sebuah pasangan bertemu, dan berbahagia.

Can’t wait to meet mine! :)


August 6, 2010

Berkelompok

Somehow kepikiran pas koas nanti gak mau ‘berkelompok’.
Terlalu banyak orang hebat diluar yang belum saya kenal.
Yang saya yakin saya bisa berkembang banyak dengan mereka tanpa perlu peng-kotak-kotak-an pertemanan.

July 31, 2010

Monita - Ingatlah

Kita pernah ada
Di suatu masa bersama
Walau kini tak sama
Jangan lupakan indahnya

Ingat dan teruslah kau kenang-kenang semua
Kata-kata tak perlu kau ucapkan juga
Asalkan terus kau simpan dalam sudut jiwa
Ku kan dapat merasakannya

Masih selalu ada
Cerita lama dan tawa
Masih tersimpan juga
Sedih saat kau tak ada

Kupercaya
Perjalanan kita
Semestinya
Membawa bahagia

July 25, 2010

Menyayangi Dalam Sepi

'Hai Bumi', sapaku si bulan saat kami berjumpa setelah lama tak bersua.

'Hai', sapa bumi kaku.

'Aku sepertinya menemukan takdirku', bisikku.

Bumi memicingkan matanya, 'Maksudmu?'.

'Takdirku, yang telah kau katakan jauh sebelum kita berpisah.
Bahwa aku memang ditakdirkan untuk menyayangimu dalam diam.
Dan sesekali tertawa saat kau berpaling sesaat melihatku di langit yang kelam.
Dan bertahan hingga akhirnya aku kan menemukan planet lain yang akan bergandengan abadi denganku'.

Sang bumi terdiam, entah terkagum atau muak.

'Kuharap kita dapat berdampingan, berdamai dalam diam, wahai Bumi'.