rss
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites

September 26, 2013

Stop (?)

Know When To Stop.
It’s easy to say. But it’s very hard to do.
Tulisan ini terinspirasi setelah saya menemani seorang teman yang sedang rutin berobat dengan seorang dokter kulit yang cukup terkenal pada daerahnya.

Teman saya ini, tipikal perempuan yang sangat care dengan penampilannya. Rapi dan dandannya tertata dengan baik. Suatu saat, di wajahnya mulai muncul jerawat-jerawat kecil, out of nowhere. Ternyata hal ini sangat jd concern buat dirinya, hingga dia memutuskan untuk memulai perawatan dengan dokter kulit kelamin yang terkenal pada daerah kami.

Sebagai penonton, saya memperhatikan step step yang ia jalani demi
mencapai kulit sempurnanya. Ratusan ribu telah keluar, banyak perawatan telah ia lewati. Pergantian sabun, sunblock, day cream, night cream, scrub, masker, peeling, microdermabrasi, facial, telah semuanya ia lewati. Hasilnyapun tampak, menurut saya. Jerawat-jerawat mini yang tadinya memenuhi wajahnya hilang, kulitnyapun tampak lebih cerah. Singkat kata, menurut saya kulitnya sudah flawless.

Hari itu saya menemaninya untuk menjalani langkah perawatan (yang entah keberapa), tepat sebelum bertemu dengan sang dokter kulit, di mobil, saya berkata “Kulit lo sekarang udah bagus banget, tinggal ngejaganya aja ini mah”. Iapun setuju dengan pendapat saya.
Setelah menunggu sekitar 30 menit hasil berkonsultasi dengan sang dokter, teman saya inipun menemui saya di mobil dengan muka sedikit ditekuk. “Loh, kenapa?” Tanya saya. “Makin mahal perawatan gue” jelasnya.
Saya jelas kaget. Bagaimana bisa seorang dengan kulit yang terawat, dan terhitung sangat bagus malah menjalani perawatan yang lebih mahal.
“Lah, kok bisa?” Tanya saya.
“Iya, katanya skrg pori-pori gue harus dikecilin, kantung mat ague juga kan keliatan” jawab dia.
“Lah, bukannya dari dulu emang udah begitu?”
“Iya sih, tapi kata dokternya kalo mau bagus, ya begitu..” jelas teman saya.
Lalu saya menanyakan satu hal ini: “Lo Tanya dokternya gak, treatment lo akan berhenti sampe apa?”
Teman saya bertanya balik, “Maksudnya?”
Saya bilang “Iya, kan kalo berobat demam berdarah, indikasi pulang lo kalo trombosit udah lebih dari 80.000 dari bebas syok 3 hari tuh, kalo TB berhenti berobat kalo BTA udah (-) paska pengobatan, bahkan kusta aja ada release from treatmentnya. Kalo lo, kapan berhentinya?”
Teman sayapun terdiam, dan mengangkat bahu. “Bakal ada terus sih yang dikomplain ya”

***
Saya jadi tersentil.
Isn’t that how we live in society?
Tuntutan-tuntutan tanpa henti. Entah yang berujung pada apa.
Saat SMA, tuntutannnya diterima di fakultas/universitas sebaik mungkin.
Saat kuliah, tuntutannya mendapat IP setinggi mungkin.
Saat lulus, tuntutannya bekerja di tempat dengan gaji sebagus mungkin.
Saat gaji bagus, tuntutannya kapan menikah dengan orang yang se-oke mungkin.
Saat menikah, tuntutannya kapan memiliki anak selucu mungkin?
Saat punya anak, tuntutannya kapan menambah adik (sebanyak mungkin) ?
Dan ketika anak sudah dewasa, tuntutannya kapan mendapat menantu se-oke mungkin.
Lingkaran tuntutan tanpa akhir.
Lalu pertanyaan saya,

Kapan lingkaran tuntutan ini berakhir?
Kapan kita dinyatakan ‘Release from Assertion’?

Lalu saya berfikir dan berfikir.
Dari dua topic (yang entah bersinggungan atau tidak diatas. Atau ini hanya semacam loncatan ide dalam kebiasaan asosiasi longgar saya) itu, kuncinya satu: know when to stop.
Tau kapan berhenti dari tuntutannya tak berujung.
Untuk menjadi cantik, untuk mendapat universitas terbaik, untuk mendapat IP tertinggi, untuk mendapat gaji terbagus, untuk menikah tercepat, untuk punya anak (terbanyak?)
Untuk menjadi yang paling-paling-paling dari semua.
Dan mulai mencoba hidup tanpa judgment.
Tanpa tuntutan.
Tanpa kebutuhan atas pengakuan orang lain.
Tanpa pretensi apa-apa.

Saya membaca tentang kebiasaan hidup orang-orang di Swiss di buku The Geography of Bliss, dan somehow saya sangat ingin menerapkan pola hidup orang Swiss pada keturunan saya kelak.
Di Swiss, katanya, berbuat sombong merupakan sesuatu yang memalukan.
Bicara tentang uang adalah hal yang tabu.
Bahkan untuk member tahu/mengkritik orang lain pun menjadi hal yang tabu. Karenanya orang swiss tampak menjadi manusia yang cuek dengan keberadaan orang lain. Karena bagi mereka, member tahu/mengkritik orang lain menunjukkan bahwa orang itu merasa lebih dari orang lain.
Dan merasa lebih dari orang lain bagi mereka adalah yang tabu.

Isn’t that nice?

June 11, 2013

The Devils Inside Us

Pernah dengar kata-kata “Setan itu ada dalam diri kita sendiri?”

Sepanjang saya TK, SD, TPA, hingga kuliah, saya di doktrin oleh kepercayaan bahwa ada dua jenis setan. Setan berwujud iblis, dan setan dalam diri kita sendiri yang membawa kita ke arah keburukan. Dan saya rasa bukan cuma saya aja yang tunduk dengan doktrin ini.
Doktrin dimana jika saat ramadhan setan dikunci di neraka, lalu mengapa kejahatan masih berlangsung? Gak satu-dua ustadz yang bilang bahwa kejahatan itu didorong oleh setan dalam diri kita sendiri.

Posting saya kali ini mempertanyakan doktrin ini dengan pengetahuan medis-psikologis yang baru saya baca kemarin.

—-

Sejak (akhirnya) mengetahui cara dan serunya menggunakan servis Quora, akhir-akhir ini saya lebih sering mengeksplor Quora dan meninggalkan StumbleUpon, yang tadinya merupakan aplikasi android paling aktif di handphone saya. Kemarin ini, saya tidak sengaja menemukan pertanyaan dan jawaban yang menarik perhatian saya, pertanyaannya begini “How do I get over my bad habit of procrastinating?”

Sebagai sesama procrastinator, saya merasa memiliki panggilan batin untuk mengintip jawaban dari orang-orang, dan saya tersentil dan tertarik dengan jawaban Oliver Emberton.

Jadi menurut Oliver, otak kita terdiri dari dua bagian inti. Oliver menyebut mereka adalah Albert (Semacam pun untuk Albert Einstein) dan Rex karena bagian otak ini punya sifat mirip sifat dasar reptil. Di dunia kedokteran, kita mengenal Albert sebagai higher cortical function alias fungsi luhur alias hampir seluruh area otak, yang kita kenal dengan brodman area. Higher cortical function ini punya bos besar yang bernama Prefrontal Cortex, semacam pusat relay informasi, simplenya ada si ‘pemikir’. Sedangkan Rex dalam dunia kedokteran kita kenal sbh Basal Ganglia, yg ternyata saya juga baru tahu, pusat motivasi pemenuhan kebutuhan dasar hidup, ya makan, ya tidur, dan nafsu.

Sadly, saat kita mau melakukan sesuatu, ternyata bukan Albert yang in charge, namun si Rex. Jadi ujungnya adalah apakah Rex mau melakukan sesuatu atau tidak. Jadi Albert ini semacam majikan, sedangkan Rex ini supirnya. Sayangnya juga, Rex ini punya kecenderungan untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan, yaitu memotivasi kita memenuhi kebutuhan dasar, ya makan, ya tidur, dan *ehem* melampiaskan nafsu itu.

Jadi, kalo si Albert mau bangun tidur dan membersihkan kamar mandi kemudian menulis blog, Rex ini maunya tidur-tiduran dan makan aja. (Which is currently going on in my situation right now, :P) Sekarang tinggal bagaimana kemampuan Albert mengendalikan Rex. Apakah Albert majikan yang cukup dominan untuk ‘menyuruh’ Rex menyetir badan dan bangun tidur.

“Yah, itu mah semua orang juga tau” mungkin itu yang kepikiran di otak ya?

Here’s the trick, karena Rex ini akan selalu memotivasi kita melakukan sesuatu yang ‘melenakan’ maka triknya adalah untuk memberi makan Rex terlebih dahulu, supaya posisi Albert lebih dominan dan bisa melakukan hal-hal produktif lainnya.

Kembali ke analogi supir dan majikan tadi, supir ini gak akan mau kerja benar sesuai arahan majikan kalo gak cukup tidur, kalo gak kenyang, dan gak digaji.

Jadi, sebelum melakukan sesuatu yang produktif, supaya kita gak berujung pada malas-malasan, akan lebih baik penuhi kebutuhan dasar tubuh terlebih dahulu, tidur cukup, makan cukup. Jadi, keinginan berleyeh-leyeh dan tidur-tiduran itu akan tersisih sendiri.

Sekali lagi, ini masih dalam teori tertulis, pada akhirnya kalian mau leyeh-leyeh sambil baca tulisan ini atau actually doing something you should do ya balik lagi ke si Albert :p

—-

Nah, tulisan saya kali ini berusaha menggabungkan antara doktrin ‘setan’ dalam tubuh, dan struktur anatomis dan fungsional yang memang benar nyata adanya.

Kalo mengintip sifat dasar basal ganglia alias Rex yang berfungsi memotivasi kita untuk memenuhi kebutuhan dasar, ya makan, ya tidur, dan *ehem* pelampiasan nafsu tadi tanpa adanya kontrol dari prefrontal cortex alias Albert, ya kita ini semacam binatang.

Dan kalo melihat dunia kejahatan saat ini, yang tadi kata Ustadz-ustadz itu, muncullnya karena ada ‘setan’ dalam tubuh, ya pencurian, ya perampokan ya perkosaan, pada intinya kan soal memenuhi kebutuhan dasar itu tadi. Bicara tentang fungsi Rex untuk memotivasi kita memenuhi kebutuhan dasar tubuh.

Sampai sini, kira-kira terbayangkah apa yang sejauh ini saya fikir?

Jujur, saya sangat cetek soal keagamaan, masih sangat luas dunia islam yang belum saya sentuh, tapi ketika saya belajar lebih jauh soal fungsi otak manusia, dan ternyata menyentuh area keislaman dimana selama ini saya tumbuh dengan doktrin-doktrin yang ada, saya jadi bertanya-tanya, apakah ‘setan’ dalam tubuh kita adalah insting binatang (yang muncul karena motivasi basal ganglia) yang tidak berhasil dikontrol oleh akal (prefrontal cortex)?

Is basal ganglia drives the devils inside us?

May 5, 2013

Suram (?)


Jadi beberapa minggu yang lalu seorang teman pernah berkomentar tentang gimana enggak enaknya tempat saya mendapatkan internship. Bahkan, gosipnya tempat internship saya ini lumayan dihindari oleh adik-adik kelas saya (yang entah kenapa segitu hebohnya pengen milih wahana :p)
Saya cuma bisa tersenyum.
Ngenes gak sih berada di RSUD Arjawinangun selama 8 bulan?
Bulan-bulan pertama saya jalani dengan mengutuk keseharian saya di sana.
Gimana enggak?
1. Dari perubahan suhu, 6 tahun tinggal di wilayah pegunungan, dengan suhu rata-rata 24 derajat celcius, saya harus beradaptasi dengan suhu Cirebon yang rata-rata 32 derajat celcius. Itu di kota dan daerah tempat tinggal saya, di Arjawinangun yang nan gersang, suhu harian bisa sampai 34 derajat celcius. Percaya lah, suhu sangat berpengaruh pada stabilitas emosi, jangan aneh tweet saya kebanyakan di awal kepindahan kesini mengeluh soal suhu Cirebon yang…..bikin emosi terus-terusan.
2. Perubahan bahasa, 6 tahun kuliah di tanah priangan, dengan selalu dicekoki doktrin bahwa saya sebagai mahasiswa tanah jawa barat harus bisa bahasa Sunda. Nyatanya? Ilmu itu hampir tidak bia diaplikasikan di tanah Cirebon sama sekali. Bahasa yang campuran Jawa dan Sunda (sedikit) dengan logat yang medok, dengan keterbatasan bahasa Indonesia, cukup bikin saya senewen di awal-awal kepindahan saya.
3. Strictnya RS tempat saya bernaung. Satu yang saya pelajari dari Internship ini adalah, saya sudah sampai pada titik kedewasaan bahwa kuncinya adalah IKHLAS. Denger temen-temen sejawat yang dapet wahana-wahana yang membebaskan mereka libur panjang, denger temen-temen sejawat yang bisa bolos seenak jidat mereka, pada awalnya membuat saya mengutuk tempat ini. Gimana enggak? Selama stase bangsal saya harus datang jam 7 pagi tiap harinya, ikut apel, dan visit pasien satu per satu, apalagi ada beberapa dokter yang memperlakukan kita sama aja kaya koass (alias cuma sampai pem fis aja, gak kasih terapi). Awalnya saya benar-benar menyesali dan selalu membandingkan tempat saya dengan tempat lain yang (katanya) lebih enak.
4. Minimnya penghargaan. Tambahan lagi adalah minimnya penghargaan, dalam hal ini dalam bentuk bantuan dana pada kita-kita dokter internship. Mendengar teman-teman lain mendapat “bantuan dana” ya cukup buat saya iri juga.
Tapi itu dulu, 2-3 bulan awal saya berada di RSUD ini :)
2 hari yang lalu, saya dan teman-teman satu kelompok pendamping selesai mengadakan perpisahan dengan Tim IGD RSUD Arjawinangun.
Ya, saya bersama mereka selama 4 bulan ke belakang, dari 8 Januari hingga 2 Mei 2013.
Dan apakah saya masih menyesali nasip saya ditempatkan di RSUD Arjawinangun?
Sama sekali tidak :)
Dibalik segala kekurangan RSUD tempat saya bernaung, saya bertemu dengan puluhan manusia-manusialuar biasa baik. Manusia-manusia yang walaupun hanya kontak 4-8 bulan ke belakang, tapi (mungkin) sudah saya anggap seperti kakak-kakak saya sendiri.
Tidak cuma dokter-dokternya yang luar biasa baik, perawat-perawat, petugas administrasi, staff farmasi, portir, supir ambulance, hingga cleaning service yang luarrr biasa baik.
Orang-orang yang (mungkin) ditengah segala keterbatasan mereka, selalu berhasil membuat saya belajar banyak darinya.
Tim Dokter: Dr. Rizka, Dr. Andien, Dr. Fadlan, Dr. Fragma, Dr. Sri, Dr. Mute, Dr. Faisal, Dr. Rosidi, Dr. Nur, Fitri, untuk kerjasamanya, diskusi-diskusi dari soal pasien hingga becandaannya, untuk ilmunya, untuk kesempatan belajarnya, untuk kerjasamanya, untuk traktirannya :p, dan untuk contoh baik dan buruknya supaya kita bisa belajar lebih banyak.
Tim Perawat Pagi Pak Haji Sekhu, Mas Aryani, dan para Buteki (Mba Astri, Mba Isma, Mba Iip) untuk gosip pagi dan traktiran makan siangnya, untuk doa cepat nikahnya, untuk usaha menjodohkan dengan dokter-dokter singlenya :p, saya anggap kalian semua segitu sayangnya sama saya jadi pengen saya cepet-cepet dapet jodoh :p
Mba Mey, untuk ilmu pasien psikosomatisnya, Mba Yusi, buat jokes-jokes pornonya,.
Tim Perawat-perawat shift:
- Mas Hurrie, buat panggilan Ipehnya (Tapi serius, saya lebih seneng dipanggil Ipeh daripada salah nama terus, atau lebih buruk lagi dipanggil Say :p) buat traktiran minum setiap shift jaga, buat becandaannya.
- Mas Eka, yang superrr baik sudah seperti kakak sendiri, buat nasehat kalo nanti nikahnya, buat cerita-cerita pengalaman hidupnya, mudah-mudahan bisa ketemu suami yang bisa diandelin dan bapak rumah tangga yang baik kaya Mas Eka
-Mas Her, yang nakut-nakutin mulu dengan cerita pelet khas Cirebonnya :D buat seluruh info trip jalan-jalannya, dan seluruh traktirannya! Jaga sama Mas Her selalu paling aman soal makanan :)) Semoga rezekinya lancar car car! Oiya dan juga seperti mas Eka, mudah-mudahan bisa ketemu suami yang bisa diandelin kaya Mas Her.
-Mas Adi, si SpKJ satu ini, buat seluruh becandaannya, buat tim lawan kartu yang seimbang, mudah-mudahan ga galau dan ga taruhan pake BB lagi :))
-Mas Yayan, my favorite nurse! Udah kaya kakak sendiri kalo sama orang satu ini, buat curhat perjodohannya, buat ramalan (yang meragukannya) buat masak-masak seafood dan diajak muter-muter penjuru Cirebon demi nyari seafood segar dan murmernya. Semoga yakin terus sama calonnya dan cepet nikah! :D
- Mas Dayat, mas bijak satu ini, terimakasih buat petuah (lagi-lagi) perjodohannya, dan selalu ngingetin sholat. Semoga cepet ketemu gantinya si HP yang bikin mas galau teruus.
- Mas Oji, mas perawat terganteng satu RSUD kayaknya, buat stok lagu-lagu dan hiburan lewat autoteks alaynya. :))
- Mas Zaenuji, CI satu ini banyak banget ngasih ilmu buat saya, buat bantuan nginfusnya, bantuan skill ngejaitnya, buat nasehat-nasehat tentang islam selama ini.
- Mas Agus dan Mas Fiqih, duo newbie IGD yang cengengesan mulu dan gak pernah marah walopun saya minta tolong terus
- Mas Robi, Mas Tono, Mas Khotim, Mas Alay alias Ali, Mas Kunandi, Mas Udin, yang walaupun interaksinya minim tapi setia membantu saya selama 4 bulan di IGD.
Tim Admin:
- Jeng Siska aka Agung, hihi manusia satu ini setia memberikan stok film buat fakir TV Series kaya saya
-Mas Wawan, Mba dinar and the genk yang selalu direpotin karena saya sering banget nyuruh keluarga pasien ke admin hihihi
Tim Portir:
-Mas Aan, ini partner portir yang nightmareee haha, karena entah kenapa tiap jaga sama Mas Aan selaluuu aja rame. Tapi saya terharu pisan pas mas Aan dan pas Mas Boni secara khusus ngirimin Jahe anget karena saya lagi kehabisan suara :”)
-Mas Sarjono and the genk, buat selalu siap sedia saat saya minta tolong dorong pasien.
Tim Ambulance:
-Mas Yakto, Mas Opik, Mas Pendi, lawan super jagoan soal capsa. Mudah-mudahan ilmu capsa dari kalian mengendap terus! :))
Dan seluruh staff IGD Arjawinangun yang gak bisa saya sebutkan satu per satu.
Sungguh, saat saya masuk RSUD ini sama sekali gak ada di bayangan saya bakal ketemu satu tim besar seperti kalian, dengan kebaikan kalian, ke murah hatian kalian (setiap dapet “obyekan” gak pernah absen ngirim makanan dan atau minuman), respek dan cerita-cerita pengalaman hidup kalian.
I’m definitely gonna miss you ALL!
Jadi buat siapapun yang bilang hidup saya suram di sini, atau siapapun yang dengan entengnya mencemooh tempat internship saya hanya karena tempat internship saya strict dan gak dapet uang.
Saya dapet yang jauh lebih besar dari uang, saya dapet keluarga )
Tulisan ini saya tujukan untuk kelompok internship IGD saya, periode Januari-Mei 2013, seluruh dokter organik IGD RSUD Arjawinangun, dan seluruh perawat IGD RSUD Arjawinangun.
Cheers!

December 27, 2012

Leery


Sembari menunggu kedatangan pasien baru (yang sebenarnya tidak diharapkan) saya sering berbincang-bincang dengan para koass Obgyn yang sedang stase di VK.
Hari itu, seorang koass sedang melakukan rutinitas curcol berjamaahnya,
Sambil sesekali memakan cemilan (yang sebenarnya diperuntukkan untuk bidan) saya ikut nimbrung dalam pembicaraan siang itu.
Si koass bercerita tentang pertengkaran yang sedang dia hadapi dengan pacarnya, saat saya tanya kenapa dia menjawab “Kemaren aku ke CSB kak, terus dr GPS ketauan sama dia, terus dia marah”
Saya terdiam, hingga harus bertanya, “GPS? Kok dia bisa tau GPS lo?”
Dan si koass pun bercerita tentang bagaimana dia yang terlebih dahulu mengaktifkan program lattitude di google maps, dan kemudian akhirnya pacarnya pun tau dan mempergunakan hal yang sama untuk memantau berada dia dimana sekarang.
And I was like, Hell, why do people do that? On what purpose?
“Ngapain lagian lo pake aktifin lattitude segala?” tanya saya.
Dan si koass menjawab “Ya pengen tau aja kak, awalnya… Dia lagi ada dimana, bener gak yang dia bilang ke aku, terus kalo dia udah tidur, bener dia ada di rumahnya atau enggak”
and I was shocked.
Has relationship fall into that era? Where you can trust where your spouse at?
Dan di tengah kekagetan saya, koass-koass lain menambahkan, tentang bagaimana teman mereka memasang chip GPS ke mobil pacarnya untuk mengontrol kemana saja pacarnya pergi, tentang bagaimana teman mereka memasang kamera kecil di dalam kamar kost pacarnya untuk memantau siapa-siapa saja yang masuk ke kamar.
Really?
Apakah kepercayaan benar-benar sudah selangka itu sekarang?
Sampe terucap kalimat dari mulut saya “Gue udah jomblo selama itu ya, sampe gatau kalo pacaran jadi begitu hari gini?”
Mereka tertawa.
Saya tertawa.
Tapi kepala saya tak berhenti berfikir.
Saya, sejauh ini, bukan tipe posesif pencemburu yang sampai masuk batas tidak masuk akal (hopefully :p) dan tidak pernah juga berfikir untuk sampai kesana.
Yang saya tau, relationship should bring happiness into your days. Not constant worries. Not constant jealousy. Not constant doubt about your spouse.
Do we really that dependent that we should always know where and with whom our spouse at?
Is trust really hard to find these days?
Is commitment really had flushed down to the toilet that we have to be suspicious all the time?
How can you be in a happy marriage if you cant trust the people youve married to?

How can you let each other grow in their own way to grow, if you cant even trust whether they’re at.
How can you raise a future bright generation if you cant even trust the people you raised them with?
Saya gak habis pikir.

November 8, 2012

Blank Stare


Those blank stares.
Tatapan kosong itu.
Setiap manusia saya yakin mempunyai fase dimana sebuah petir dahsyat melanda kehidupan mereka.
Suatu berita buruk di siang bolong, yang meluluh lantakkan hidup.
Menjungkirbalikkan rencana. Mengubah makna.
Bekerja sebagai dokter internship, membuat saya belajar soal hidup.
Soal beratnya intrik kehidupan kerja sesungguhnya.
Hebatnya kemampuan uang.
Besarnya pengaruh kekuasaan.
Dan makna sebuah kehidupan.
Turun bekerja langsung di dunia medis membuat saya melihat hidup dengan cara lain.
Entah karena pengalaman saya yang memang masih minim, atau karena nurani saya yang belum tergerus uang.
Tapi saya masih (dan mudah-mudahan akan selalu) menujunjung tinggi nilai sebuah kehidupan.
Rentannya profesi kami, di dunia kesehatan, adalah seringnya kami terpapar oleh berita buruk.
Kanker.
Syok.
Infeksi sistemik.
Gagal organ.
dan Kematian.
Hal ini berefek pada nurani, yang lama-lama, pelan-pelan, sedikit-sedikit, mulai luntur disana disini.
Mungkin tulisan saya terlalu mengeneralisir, tapi itu fakta yang saya hadapi.
Saat kematian menjadi sebuah hal biasa, empati kitapun tercecer entah dimana.
Memberi informed consent seakan itu adalah hal biasa.
Tapi hari itu, beda.
Usai saya memberikan informed consent kepada seorang bapak soal keadaan istri dan kedua anak kembar yang sedang dikandung istrinya, saya duduk dibalik meja nurse station ICU.
Sang bapak tersenyum pada saya, setelah saya menjelaskan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi, kedua anaknya tak selamat, istrinya pun tak berani saya jamin.
Saat perawat sibuk menyiapkan lembar informed consent untuk beliau tandatangani, sekilas saya melihat tatapan itu.
Tatapan kosong itu.
Rasa panas entah dari mana tiba-tiba muncul di dada saya.
Saya baru saja memberikan petir besar di dalam hidup beliau.

Bagaimana tidak besar? Saya memberitahukan keadaan istrinya yang sedang dalam keadaan Decompensatio Cordis Functional Class III-IV et cause Peripartum Cardiomyopathy dengan in partu pembukaan 6-7, Post Eklamsia, tanpa adanya kemungkinan untuk dilakukan Sectio Cesarea Cito di tempat saya bekerja.
Secara logikapun, saya tidak yakin 100% ibu ini dapat melewati persalinan dengan lancar.
Jantungnya lemah, nafasnya sesak. Bahkan ibu yang normal sekalipun sulit untuk mengedan saat persalinan, apalagi pasien ini dengan dasar penyakit yang cukup rumit.
Tidak cukup saya memberitahukan keadaan ibunya yang ‘jelek’, saya juga harus memberitahukan bahwa mungkin kedua anak kembar yang sedang dikandung si ibu akan mengalami sulit bernafas.

Dan saya melakukan informed consent seakan-akan itu hal yang biasa.

Tatapan kosong itu.

Pelan setelah si bapak selesai menandatangani semua form, beliau mengangguk pada saya, dan berjalan ke samping istrinya sambil memberikan teh manis hangat yang beliau pegang.

Saya tertampar.
Saya baru dua bulan, dan sejauh ini, belum terkontaminasi uang. Namun hati saya mulai kebal dengan berita buruk yang selama ini saya sampaikan.
Guru-guru saya selalu berkoar-koar soal empati, empati, dan empati.
Baru kali ini saya sadari bahwa empati bukan soal kata-kata yang diulang setiap hari.
Tapi soal hati, yang selalu bisa menempatkan diri.
Bukan soal siapa yang paling pintar.
Tapi soal siapa yang paling bernurani.

Tulisan ini saya tulis untuk mengingatkan saya dimasa depan nanti, sebesar apapun godaan uang menanti, hati ini harus selalu diasah dan diresapi. Didengar dan dihayati.
Jangan sampai saya menjadi orang tak berhati, yang selama ini saya temui dan saya benci.